Perayaan Hari Noken dan Disabilitas Tegaskan Menguatnya Gerakan Menoken

Komunitas Noken Mamta menyampaikan SALAM MENOKEN usai merayakan Hari Noken Sedunia dan Hari Disabilitas Internasional di Resto Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Komunitas Noken Mamta merayakan Hari Noken Sedunia pada 4 Desember dan Hari Disabilitas Internasional 2025 pada 3 Desember 2025 di Resto Isasai, Waena, Jayapura, Sabtu (6/12/2025). Perayaan ini menegaskan makin kuatnya gerakan menoken sebagai gerakan budaya yang inklusif dan terus tumbuh di Tanah Papua.

Acara dibuka Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (3M), Piter Roki Aloisius, melalui lagu “Tanah Papua” diiringi Noken Band, doa hening bagi korban bencana di Sumatera Barat dan pembacaan puisi Balada Irene Sokoy karya Igir Al-Qatiri.

Talk show menghadirkan empat narasumber perempuan. Petronella Giyai, Nokeners Tuli dan Perajut Noken, Yohana Tarkuo Dirut BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Naomi Waisimon Co Founder Ki Basic, dan Levina Yaung Influencer Noken.

Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (3M), Piter Roki Aloisius, membuka perayaan Hari Noken Sedunia dan Hari Disabilitas Internasional di Resto Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Gerakan dari Yotoro ke Tanah Papua

Roki kembali mengulas kelahiran gerakan menoken yang dicetuskan oleh Ambrosius “Ruwi” Ruwindrijarto di Bukit Yotoro pada 12 Maret 2021 dan dilaunching Bupati Jayapura saat itu, Mathius Awoitouw. Sejak “Janji Yotoro,” gerakan ini berkembang ke tujuh wilayah adat Papua dan mulai dikenal di tingkat nasional hingga internasional.

Komunitas Noken Mamta merayakan Hari Noken Sedunia dan Hari Disabilitas Internasional di Resto Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Filosofi Noken dan Penguatan Komunitas

Roki mengutarakan, menoken dimaknai sebagai praktik budaya berbasis nilai, yakni transparansi, kelenturan, kekuatan, dan kasih kerahiman. Gerakan ini turut mendorong lahirnya inisiatif Mem-BUMMA, yaitu pembentukan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat pada tingkat SUKU. Saat ini dari tiga inisiatif BUMMA yang dikembangkan; Namblong, Mare, dan Kanum; Suku Namblong yang pertama yang telah mengukuhkan legalitas BUMMA Namblong dengan nama PT. Yombe. Namblong Nggua. BUMMA Namblong ini sebagai yang pertama berdiri di Tanah Papua, Indonesia, dan bahkan di dunia.

Roki mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap noken sebagai warisan budaya tak benda bukan bersifat abadi.
“Kalau kita tak menjaga, merawat, dan melestarikan tradisi noken, status itu bisa dicabut kapan saja,” tegasnya.

Perayaan Hari Noken Sedunia dan Hari Disabilitas Internasional diisi talk show bersama Yohana Tarkuo, Naomi Waisimon, Petronella Giyai, dan Levina Yaung di Resto Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Berbagi Isi Noken

Petronella Giyai membagikan isi noken melalui pengalamannya mengikuti Menoken Tano Batak di Samosir pada 7–12 Oktober 2023.

Selain menoken, ia mengajar peserta merajut noken dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Menurutnya, antusiasme peserta sebagian besar dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)  sangat tinggi. Ia juga mengenang pendakian ke Pusuk Buhit sebagai momen kebersamaan lintas budaya.

Yohana Tarkuo mengaku menjadikan menoken sebagai ruang perjumpaan yang menguatkan. Dari kegiatan menoken yang masuk ke Namblong pada 2022, ia kemudian terlibat dalam pembentukan BUMMA Namblong hingga berdirinya PT Yombe Namblong Nggua pada 2024, yang kini mengelola enam unit usaha masyarakat adat.
“Semua perjalanan itu bermula dari keindahan menoken yang mempertemukan kami,” ujarnya.

Naomi Waisimon mengenang pertama kali mengikuti menoken pada 2021 tanpa memahami apa itu noken. Namun dari proses itu, ia belajar nilai keterbukaan, kelenturan, dan keberanian berbagi.
“Saya merasa seperti menemukan ulang Papua, bahkan menemukan diri saya,” kata Naomi, yang kemudian mendirikan Ki Basic untuk memperkuat perajin noken.

Levina Yaung menceritakan ketertarikannya pada noken bermula saat menulis skripsi Hubungan Internasional di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta pada 2017. Pertemuannya dengan penggagas noken untuk UNESCO, Titus Pekey, menghubungkannya kembali dengan mimpi masa kecil tentang noken.

“Meski saya sedang pemulihan pascakecelakaan, tapi saya tetap meneliti diplomasi noken hingga memahami proses yang mengantarkan noken diakui UNESCO,” tandas Levina. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *