Makna Filosofis di Balik Noken Papua

Ki Basic bersama para pemuda yang terlibat dalam pelaksanaan acara menyampaikan SALAM MENOKEN pada Instalasi “Noken Diversity—Keberagaman Noken” di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Noken bukan sekadar tas tradisional, tapi simbol budaya Papua, yang menyimpan nilai-nilai atau filosofi yakni transparansi, kelenturan, kekuatan, dan kasih kerahiman.

Makna ini kembali diperkenalkan dalam acara Instalasi “Noken Diversity—Keberagaman Noken” di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025).

Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma, Piter Roki Aloisius, menjelaskan bahwa bentuk anyaman noken mencerminkan nilai transparansi dan kekuatan, sementara penggunaannya untuk menggendong bayi menunjukkan kasih kerahiman.

Ia mengingatkan bahwa status noken sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO bisa dicabut jika noken tak dijaga, dirawat dan dilestarikan.

Roki cerita, ia melihat dan mengamati  Noken Paniai memiliki kekhasan tersendiri di wilayah Mee Pago, karena dibuat dari serat anggrek hutan. Bahan anggrek ini hanya dapat ditemukan jauh di dalam hutan, sehingga proses pengambilannya dikerjakan oleh laki-laki. Mereka harus berjalan jauh, memanjat pohon, dan mencari jenis anggrek tertentu yang seratnya kuat serta tahan lama.

Setelah bahan terkumpul, perempuan melanjutkan proses dengan membersihkan, mengeringkan, memintal, dan merajutnya menjadi noken. Tradisi pembagian peran ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi ciri khas pembuatan noken Paniai.

“Noken anggrek dari Paniai tak hanya unik dari segi bahan, tapi juga memuat nilai budaya tentang kerja sama laki-laki dan perempuan serta penghormatan terhadap alam,” jelas Roki.

Sementara itu, salah-satu Founder Manibobi Preneurs, Agustien Raquela Sanggenafa menilai acara ini membuat anak muda lebih memahami keragaman noken dari berbagai daerah.
“Kegiatan semacam ini penting untuk membangkitkan kebanggaan terhadap identitas budaya Papua,” tutur Raquela.

Anggota Komunitas Noken Mamta, Merlin Stevani Marwery, menegaskan perlunya generasi muda menjaga keberlanjutan noken, agar pengakuan UNESCO tetap bertahan.

Merlin mengingatkan bahwa banyak anak muda memakai noken tanpa memahami maknanya, padahal noken membawa nilai dan sejarah yang harus dihargai.

Kegiatan yang digagas Ki Basic bersama Indonesia Art Movement, didukung Yayasan BUMN melalui program Pikiran Terbaik Negeri 2025.

Acara ini menampilkan aneka noken dari tujuh wilayah budaya Mamta/Tabi, Saereri, Domberai, Bomberai, Mee Pago, La Pago, dan Anim Ha.

Acara juga diisi workshop merajut, pasar lokal, dan kelas budaya noken Namblong. Sejumlah brand lokal turut hadir, seperti Lot Ta Project, Wadomu Art, Rumah Talikat, dan Papua’s Best Curly. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *