Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, SOTA—Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Suku Kanum di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini (PNG).
Dukungan ini disampaikan Staf Ahli Gubernur Bidang Otsus Pemprov Papua Selatan, Michael R. Gomar, mewakili Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, saat kesepakatan pembentukan BUMMA Kanum dalam kegiatan Menoken di Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, 1 September 2025.

CEO Mitra BUMMA, Ambrosius Ruwindrijarto didampingi Direktur Yayasan Menoken Membumi dan Membumma, Piter Roki Aloisius, saat diterima dengan tarian Yaiyu dalam kegiatan menoken Suku Kanum di Kampung Wereaver, District Morehead, Western Province, PNG, 4 September 2025. (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)
Legasi Nyata bagi Suku Kanum
Gomar menegaskan, Pemprov Papua Selatan yang baru berjalan hampir tiga tahun berkomitmen agar inisiatif ini menjadi legasi nyata bagi Suku Kanum.
“Masyarakat adat tak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah, begitu juga sebaliknya. Semua pihak harus berkolaborasi, termasuk NGO dan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.
Menurut Gomar, kolaborasi yang baik akan mencegah kelaparan dan kemiskinan, membuka lapangan kerja, serta memastikan kontribusi perusahaan membawa manfaat langsung bagi masyarakat adat.
“Roh Otsus adalah keberpihakan, perlindungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua program dan dukungan pemerintah harus berpihak kepada masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP),” tegasnya.
Ia menambahkan, keberpihakan berarti melindungi dan menjunjung tinggi harkat OAP, sekaligus mempercepat pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Perlindungan mencakup pengakuan hak-hak adat suku Kanum oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi. Sedangkan pemberdayaan diarahkan untuk mengelola potensi kampung dan membuka lapangan kerja demi kesejahteraan masyarakat.

Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Namblong, Bernard Demotekay, saat mengikuti kegiatan menoken di Suku Kanum di Kampung Wereaver, District Morehead, Western Province, PNG, 6 September 2025. (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)
BUMMA Kanum Resmi Terbentuk
BUMMA Kanum resmi terbentuk melalui berita acara yang ditandatangani 26 kepala kampung, baik di wilayah RI maupun PNG, di Kampung Wereaver, District Morehead, Western Province, PNG, pada 6 September 2025.
Kesepakatan tersebut disaksikan Papua Paradise Center (PPC), Yayasan Menoken Membumi Membumma (3 M), dan Mitra BUMMA.
Kepala kampung yang turut menandatangani berasal dari delapan kampung di Indonesia dan 18 kampung di PNG, di antaranya Kampung Sota, Yanggandur, Rawa Biru, Yakyu, Korkari, Tomerau, Tomer, Onggaya (Indonesia), serta Kampung Makat, Meru, Ndakona, Wereaver, Weam, Tokwa, Indorodoro, Kandarisa, Mermer, Menggethee, Wamenefer, Korombo 1, Korombo 2, Torwaya, Wando, Balamuk, Bondobol, dan Bula (PNG).

Tim Pemetaan-Advokasi dan Tim Ekonomi BUMMA Kanum membuat sketsa peta wilayah adat di sela kegiatan menoken Suku Kanun di Kampung Wereaver, District Morehead, Western Province, PNG, 6 September 2025. (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)
Pemetaan Wilayah Adat Suku Kanum
Masyarakat Adat Suku Kanum dalam kesepakatannya berkomitmen untuk tetap mengorganisir diri sebagai satu suku meski berada di 26 kampung berbeda dan di dua negara, menyelesaikan pemetaan wilayah adat di Indonesia seluas 330.800 hektar serta memulai pemetaan di PNG dengan estimasi 500-an ribu hektar, mengupayakan pengakuan dan penetapan wilayah adat secara resmi oleh pemerintah RI dan PNG, membangun satu BUMMA guna menjaga dan mengelola seluruh wilayah adat Suku Kanum.

Pemangku kepentingan menunjukkan salam menoken di Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, 1 September 2025. (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)
Filosofi Menoken: Menjaga Kehidupan
Kegiatan ini mengangkat tema dari filosofi Menoken, bagian dari program 3M yang menjadi semangat gerakan kolektif berbasis nilai-nilai lokal Papua.
Menoken terinspirasi dari tradisi noken, yakni tas anyaman khas Papua bermakna merajut solidaritas, membangun jejaring, dan menciptakan ruang kolaborasi antar-komunitas. Nilai kasih kerahiman, kelenturan, keterbukaan, dan daya guna menjadi fondasi gerakan ini, yang kini mewarnai langkah besar Suku Kanum dalam memperjuangkan kedaulatan dan keberlanjutan hidup di tanah leluhur mereka. **














