ETMC dan Pengkhianatan Asprov PSSI NTT

Penampakan Stadion Marilonga, Ende, Flores, NTT (Foto: Istimewa)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

KONGRES Asprov PSSI NTT tahun 2024 telah menetapkan Kota Ende sebagai tuan rumah pelaksanaan Turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXIII tahun 2025. Namun, dibatalkan secara sepihak.

Sekretaris Asprov PSSI NTT, Abdul Muis tetap jadi sorotan sentral. Mengapa? Dialah aktor intelektual dibalik pemindahan tuan rumah ETMC XXXIII.

Pembatalan ini membuat Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda dan DPRD Ende, yang  telah mengalokasikan anggaran, untuk menyukseskan ETMC XXXIII, seperti memikul beban sangat berat.

Di satu pihak mereka mesti memahami dan mentaati keputusan Asprov Papua ini, tapi di sisi lain mereka juga mesti menanggung “dosa”, terutama di kalangan masyarakat Ende dan komunitas sepak bola se-Pulau Flores, yang sebelumnya menyambut ETMC 2025 dengan suka cita kini merasa dikhianati.

Padahal Pemda Ende jauh sebelumnya juga telah merenovasi Stadion Marilonga, memasang lampu sorot di empat sudut stadion, rumput bersih dan rata, tribun penonton representatif, ruang ganti pemain nyaman dan conference room.

Bahkan bersiap menyediakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) jika dibutuhkan.

Semua ini dilakukan demi menyukseskan ETMC 2025 tersebut. Suka atau tak suka, setuju ataupun tak setuju bahwa Ende adalah magnet baru sepakbola NTT.

Langgar Statuta PSSI

Pemindahan tuan rumah ETMC 2025 memicu dugaan pelanggaran Statuta PSSI. Berdasarkan Pasal 25–29 Statuta PSSI Tahun 2019, perubahan strategis seperti pemindahan lokasi turnamen apabila terjadi force mayor, seperti bencana alam, perang dan lain-lain. Faktanya, Ende aman kondusif, dan APBD pun stabil.

Meski demikian, keputusan harus melalui forum kongres resmi dan disetujui mayoritas anggota (Askab/Askot) yang sah.

Cuma, pertanyaannya, adakah sanksi yang diputuskan PSSI otoritas tertinggi sepakbola di Tanah Air kepada Asprov PSSI, yang telah nyata-nyata melanggar statuta PSSI ?  

Luka Hati

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mendukung tuan rumah ETMC 2025, baik di Kota Kupang maupun Ende, yang terpenting adalah komunikasi antara Asprov dan sejumlah Askab/Askot PSSI dan persiapan tuan rumah.

Tapi kemauan baik orang nomor satu di NTT itu tak cukup untuk menyembuhkan kekecewaan dan luka hati komunitas sepakbola, khususnya di Bumi Kelimutu. 

Perjuangan Bung El

ETMC sejatinya adalah perjuangan dari mantan Gubernur NTT masa jabatan 1966-1978 mendiang El Tari atau akrab disapa Bung El.

Bagi Bung El sepakbola adalah sebuah panggung afirmasi untuk menyiapkan talenta muda dari pelosok, ruang perjumpaan lintas etnis, serta simbol persatuan daerah-daerah di Flobamora. ETMC pasti telah kehilangan “roh”-nya.

Copa de Flores

Dampaknya sungguh luas, Askab PSSI Ende mengancam untuk memboikot ETMC 2025 di Kota Kupang. Bahkan muncul gagasan menggelar  turnamen tandingan: Copa de Flores (CDF).

Sejarah mencatat pernah ada Pekan Olahraga Daerah Flores (PORDAF) digelar di Stadion Madawat, kini Gelora Samador  Maumere sekitar tahun 1962–1963.

Jika CDF benar-benar terlaksana, ini bisa menjadi momentum kebangkitan sepakbola alternatif di daratan Flores.

Ah, sepakbola, memang, selalu bicara soal takdir. Takdir buruk atau takdir baik. Entah buat siapa ? **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *