Pater Klaus: Biarawan di Balik Sukses Persami Maumere Juara ETC 1984

Pater Nikolaus Naumann, SVD. (Foto: Dok/Pos Kupang.Com)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

KABAR duka cita datang dari Jerman. Pastor Paroki Gereja Reinha Rosari Kewapante, Keuskupan Maumere dari 1995 hingga 2005, Pater Nikolaus Naumann, SVD yang akrab disapa Pater Klaus berpulang di usia 77 tahun di Jerman tanggal 22 Juli 2025 pada pukul 15.20 waktu Jerman atau 22.20 WIT.

Pater Klaus lahir pada 6 Desember 1948 di Theley, Distrik Sankt Wendel, Negara Bagian Saarland, Jerman.

Salah satu warisan Pater Klaus, yang terus terpatri di hati umat di Kabupaten Sikka adalah ikut berperan penting dalam mendampingi Tim Persami Maumere menjadi juara Turnamen El Tari Cup (ETC) tahun 1984 yang digelar di Stadion Madawat, kini Gelora Samador, Maumere.

Semangat dan doa yang dibawa Pater Klaus memberi kekuatan tersendiri bagi manajemen Persami, baik team official, para pemain dan komunitas sepakbola Sikka.

Gaya Sepakbola Jerman Barat

Saya pertama kali jumpa Pater Klaus, saat Persami menggelar game jelang Turnamen ETC 1984 di Lapangan Kota Baru, Maumere.

Trio pelatih Persami waktu itu, mendiang Dominikus Parera, Agus Wisu dan Paulinus Ladapase, didampingi Pater Klaus.

Bersama Pater Klaus gaya sepakbola Persami perlahan berkembang efisien dan disiplin. Pater Klaus mengadopsi gaya sepakbola Jerman Barat, saat menyingkirkan Total Football Belanda dan juara Piala Dunia 1974, yang sering disebut dengan istilah “Efficient and Disciplined Football” atau dalam bahasa Indonesia, “Sepakbola Efisien dan Disiplin”

Saat partai grand final Turnamen ETC 1984, Persami Maumere Vs PSN Ngada, Pater Klaus tak berada di bench pemain, tapi justru bersama warga memberikan dukungan dari tribun penonton. 

Gaya sepakbola efisien dan disiplin benar-benar diterapkan Pedro Rodriquez dan kolega.

Trio Wempy da Silva, Yos da Silva, dan Dominikus Rodriquez di lini serang, didukung play maker Yus Pedo mendominasi permainan. Padahal PSN Ngada hadir dengan full team, termasuk target man Lipus Tadi, dan palang pintu Vin Koda.

Papan score menunjuk 3-2, dan Persami dinobatkan sebagai juara baru ETC 1984.

Alhasil, El Capitano Persami Guntur Abubakar, didampingi Yus Pedo mengangkat Piala ETC 1984, lambang tertinggi supermasi sepakbola NTT. Sore jelang malam di Stadion Madawat jadi pesta warga Sikka.

Di tengah lautan manusia, Pater Klaus muncul memeluk hangat dan memberi selamat kepada tim Persami.

Seorang penonton bahkan ikut memeluk hangat Pater Klaus sembari mengucapkan: Vielen Dank (Terima Kasih Banyak).

Juggling Bola

Pater Klaus seperti biasa usai latihan Persami seringkali mempertontonkan aksi juggling bola. Ia tampak penuh semangat dan ceria saat melakukan aksi juggling bola.

Aksi ini hanya bisa dilakukan seorang pesepakbola yang memiliki hati gembira dan dasar dasar sepakbola tinggi, sebagaimana sering dilakukan super star Diego Maradona.

Aksi ini menarik perhatian anak-anak dan orang dewasa, yang kagum melihat perpaduan antara ketenangan rohani dan keterampilan bermain yang menghibur.

Praktis 100 kali bola tetap berada di sekitar kaki, lutut, pundak dan kepala Pater Klaus.

Inilah filosofi sepakbola, yang diwariskannya, khusus untuk warga Sikka.

Rest in Peace. Beristirahatlah dalam Damai Pater Klaus. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *