Menoken Laptop di Atas Danau Sentani di Abar

Menoken Laptop Microsoft Word, untuk Nokeners di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (4/4/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI–Menoken Laptop Microsoft Word, untuk Nokeners Abar berlangsung di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua atau persis di atas Danau Sentani, Jumat (4/4/2025) dan Sabtu (5/4/2025).

Menoken laptop microsoft word, untuk nokeners Abar ini juga untuk mempromosikan kampung Abar sebagai salah-satu kampung wisata di Kabupaten Jayapura. 

Kegiatan ini kolaborasi Pemkab Jayapura, The Samdhana Institute, Uncen Jayapura,  Pertamina Fondation dan Menoken Mamta.

Nokeners yang hadir antara lain, Pemuda Kampung Abar, FKIP Bahasa Inggris Uncen Jayapura, Duta Inspirasi Indonesia, Pemuda Pertamina Foundation, Noken Mamta.

Menoken Laptop Microsoft Word, untuk Nokeners di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (4/4/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Dasar-Dasar Pengoperasian Microsoft Word

Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Uncen Jayapura, Muhammad Jihad Hamzah, menjelaskan, menoken laptop microsoft word ini, untuk  memperkenalkan dasar-dasar pengoperasian microsoft word, seperti  cara menulis surat undangan, membuat kop surat dan isi surat.

Menoken Laptop Microsoft Word, untuk Nokeners di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (4/4/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Daya Tangkap Tinggi

Jihad menyampaikan nokeners Abar memiliki motivasi dan semangat yang tinggi, untuk belajar lebih jauh tentang aplikasi microsoft work. 

“Kami senang bisa menoken, berbagi ilmu bersama nokeners Abar. Kami bersedia untuk melatih nokeners kapan dan dimanapun,” ujar Jihad.

Pemuda Pertamina Foundation, Leonardo Theofilus Masan Kopong menuturkan menoken laptop microsoft word ini sangat bermanfaat dan berdampak di dunia pendidikan lanjut dan juga di dunia kerja.

“Kami bangga nokeners Abar memiliki  daya tangkap yang tinggi, untuk belajar laptop, sehingga kami hanya mengarahkan dan mendampingi saja,” ucap Leonardo.

Menoken Laptop Microsoft Word, untuk Nokeners di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (4/4/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Berkelanjutan

Sejumlah Nokeners Abar menyambut positif kegiatan menoken laptop microsoft word, bahkan diantara mereka untuk pertama kalinya mengenal microsoft word.

Mereka mengaku walaupun di sekolah ada mata pelajaran komputer, tapi sangat terbatas. 

Nokeners Abar, Marthin Puhiri mengaku selama ini tak memiliki laptop, sehingga tugas-tugas sekolah yang diberikan terpaksa minta bantuan rekan-rekannya.

“Kami mengharapkan kegiatan ini dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, sehingga kami betul-betul mampu mengoperasikan microsoft word,” ucap siswa SMA YPPGI Sentani ini.   

Juliana Waimeni menuturkan, nokeners Abar senang bisa mendapat kesempatan belajar cara mengoperasikan microsoft word.  

“Kami bisa mengenal komputer, untuk bekal masa depan kami. Untuk saat ini syarat melamar pekerjaan harus tahu komputer,” ungkap Siswa SMA YPPGI Sentani ini. 

Jelita Elsi Melantuna mengatakan, nokeners Abar sudah mampu mengetik surat undangan.

“Kami bisa membantu panitia Festival Helay Mbay Hote Mbay, untuk  membuat surat undangan,” kata siswi SMKS YPKP TIK Sentani ini.

Jelita pun  mengajak nokeners Abar, yang belum hadir menoken laptop hari ini bisa hadir di kesempatan lain.

Guru SD Persiapan Abar, Celina Felle mengatakan menoken laptop microsoft word ini penting, agar kedepan anak-anak bisa mengoperasikan komputer dan  bisa mandiri serta membantu pemerintah kampung mempromosikan kampung Abar sebagai salah-satu kampung wisata di kabupaten Jayapura.

Di akhir menoken laptop microsoft word, nekeners memperkenalkan potensi-potensi yang ada di kampung Abar dan menyanyikan lagu “Helem Foi” yang artinya Terima Kasih.

Beatriks Felle, salah seorang anggota dan pelatih Kelompo Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar, menunjuk cara membuat gerabah menggunakan mesin meja putar modern. (Foto: Dok/Papuainside.id)

Produsen Gerabah Tradisional

Di Kabupaten Jayapura terdapat 139 Kampung dan 5 Kelurahan. Kampung Abar merupakan salah-satu kampung wisata di Kabupaten Jayapura, yang dikenal sebagai produsen gerabah tradisionil atau sempe.

Gerabah adalah kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, yang dibentuk dan dibakar. Gerabah memiliki berbagai fungsi, seperti wadah penyimpanan, alat memasak, dan alat makan.

Untuk memperkenalkan kerajinan gerabah tradisional, maka Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar dan Komunitas Menoken Mamta berkolaborasi membuka kelas gerabah 23-27 September 2023, dilanjutkan pada 8 Pebruari 2025. Kelas gerabah ini diikuti sejumlah komunitas, bahkan anak-anak.

Sejumlah anggota Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar difasilitasi Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Jayapura, mengikuti pelatihan membuat keramik 1-14 Desember 2023, dengan instruktur dari Surabaya (Jawa Timur). 

Sebelumnya, Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar mengirim 10 orang pengrajin gerabah, didampingi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura mengikuti pelatihan membuat gerabah dari tanah liat di Desa Pulutan, Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Jayapura, mengirim 7 anggota Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar belajar membuat souvenir di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2015.

Selanjutnya, sejumlah anggota Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar ikut pelatihan membuat keramik, yang difasilitasi BBPPKS Jayapura, 1-14 Desember 2023 lalu.

Usai pelatihan, Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar mendapat bantuan BBPPKS Jayapura berupa 1 unit oven atau pemanggangan.

Jika sebelumnya, Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar masih menggunakan cara manual, tapi kini sudah menggunakan mesin meja putar modern dan oven.

Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar, sekaligus Inisiator Festival Helay Mbay Hote Mbay, Naftali Felle. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Festival Helay Mbay Hote Mbay

Untuk mempertahankan tradisi gerabah tradisional, yang telah diwariskan para leluhur sejak delapan generasi lalu, maka Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar sejak tahun 2017, menggelar  Festival Helay Mbay Hote Mbay.

Pada pelaksanaan Festival Helay Mbay Hote Mbay ke III tahun 2019, Pemkab Jayapura mencanangkan kampung Abar sebagai salah satu festival tahunan di Kabupaten Jayapura, selain Festival Danau Sentani (FDS).

Festival Helay Mbay Hote Mbay ini sempat tertunda selama beberapa tahun, akibat pandemi Covid-19. Selain itu, pelaksanaannya juga sempat tertunda akibat ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 yang berlangsung tahun 2021 di Provinsi Papua.

Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar kini tengah mempersiapkan Festival Helay Mbay Hote Mbay ke V, yang direncanakan pada 28-30  September 2025 mendatang.

Masyarakat Kampung Abar sebagian besar memiliki mata pencaharian bercocok tanam dan nelayan. Setiap pagi kaum pria menjaring ikan, sedangkan kaum wanita membawa ikan menuju Dermaga Yahim, untuk dijual di sejumlah pasar di sekitarnya.

Perjalanan menuju Kampung Abar ditempuh selama 45 menit menggunakan speed boat dari Dermaga Yahim, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Kelompok Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar, sekaligus Inisiator Festival Helay Mbay Hote Mbay,  Naftali Felle menjelaskan, dalam bahasa Sentani, gerabah disebut helay. Dengan demikian, Helay Mbay Hote Mbay artinya makan papeda dalam gerabah.  

“Gerabah telah diwariskan  para leluhur Kampung Abar sejak dahulu hingga saat ini. Warga di kampung ini secara turun temurun mempertahankan warisan pembuatan gerabah ini,” tutur Naftali.

Naftali mengatakan, selama Festival Helay Mbay Hote Mbay ini, para pengunjung dapat menikmati papeda dan ikan, yang disiapkan di dalam sempe.

“Para pengunjung akan kami sajikan makan papeda di dalam sempe sesuai tradisinya. Setiap pengunjung wajib makan bersama dalam kelompok didalam sempe. Selesai makan pengunjung dipersilakan membawa pulang sempe,” tukas Naftali yang juga Kepala Suku atau Ondoafi Kampung Abar ini. 

Peserta dan Pelatih Menoken Laptop Microsoft Word, menyampaikan salam menoken di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (4/4/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Filosofi Menoken

Menoken adalah bagian dari program 3 M The Samdhana Institute. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Menoken diinisiasi The Samdhana Institute adalah suatu gerakan bersama, yang terinspirasi dari nilai-nilai atau filosofi tas noken di Tanah Papua, yakni merajut tindakan dan membangun wadah, untuk menyambungkan komunitas, produk, pengetahuan, dan solidaritas.

Dengan demikian, menoken terdapat nilai-nilai yaitu kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, kedayagunaan, keterbukaan, memelihara kehidupan.

The Samdhana Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait lingkungan hidup. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *