Oleh: Makawaru da Cunha
PAPUAinside.id, JAYAPURA--Di tengah rimbun hutan dan kicauan burung di Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua sebuah kegiatan unik dan penuh makna berlangsung setiap Sabtu petang di Sekolah Budaya Namblong (SBN).
Kegiatan itu bernama Menoken Ukulele adalah sebuah inisiatif sederhana namun sarat filosofi, yang kini mulai mengakar di hati para siswa-siswi.
Program ini dipandu oleh Piter Roki Aloisius, seorang musisi sekaligus Nokeners dari wilayah Mamta.
Di tengah bentang alam yang menjadi kelas terbuka, Roki membimbing anak-anak mengenal ukulele atau alat musik petik asal Hawai berukuran mungil, namun bersuara nyaring sebagai media mengekspresikan diri dan merawat lagu-lagu daerah Namblong.

Menoken Ukule bersama Nokeneres Mamta, Piter Roki Aloisius di Sekolah Budaya Namblong (SBN), Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Dari Keprihatinan, Lahir Insiatif
Ide awal kegiatan ini muncul dari keprihatinan Roki terhadap minimnya anak-anak yang mampu menyanyikan lagu-lagu daerah, dengan iringan alat musik tradisional seperti ukulele, gitar, dan tifa. Melihat hal itu, Roki lalu mengusulkan ide Menoken Ukulele kepada Rosita Tecauri, Pendiri SBN. Sambutan hangat pun datang, dan kolaborasi mulai terbentuk.
Berbagai pihak pun terlibat mendukung inisiatif ini, termasuk Mitra BUMMA, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Organisasi Gerakan Perempuan Adat (ORPA) Suku Namblong, dan tentu saja SBN sendiri. Dukungan pertama datang dalam bentuk lima unit ukulele sebagai modal awal pembelajaran.
“Kami ingin kegiatan ini berkembang. Kalau makin banyak anak tertarik, BUMMA siap menambah alat musik,” kata Roki.

Menoken Ukule bersama Nokeneres Mamta, Piter Roki Aloisius di Sekolah Budaya Namblong (SBN), Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Belajar Musik dari Alam
Belajar ukulele di SBN bukan hanya soal nada, tapi juga menyatu dengan alam. Suara ukulele berpadu harmonis dengan gemerisik dedaunan dan nyanyian burung, menjadikan suasana belajar sangat alami dan menyenangkan.
Roki menjelaskan bahwa pembelajaran dimulai dari yang paling dasar: mengenal notasi, ritme, hingga teknik-teknik dasar bermain musik.
Meski baru berlangsung tiga kali pertemuan, yaitu pada 22 Februari, 1 Maret, dan 8 Maret 2025 kemajuan sudah terlihat.
Para siswa seperti Fany Maran (SMP YPK Genyem), Christiani Wero dan Leberina Tiris (SD YPK Benyom), Fany Griapon (SMP YPK Genyem), dan Jelfia Tecuari (SMPN I Nimboran) mulai mampu mengiringi lagu-lagu sederhana seperti “Burung Kakak Tua” menggunakan ukulele.
“Kami mulai dari lagu-lagu ringan. Nanti kalau mereka sudah terbiasa, baru naik tingkat ke lagu-lagu yang lebih kompleks,” ujar Roki.

Menoken Ukule bersama Nokeneres Mamta, Piter Roki Aloisius di Sekolah Budaya Namblong (SBN), Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Tempat Menyalurkan Hobi
Bagi siswa-siswi yang selama ini hanya bisa menyanyi di paduan suara gereja tanpa alat musik pendukung, kegiatan ini menjadi ruang untuk menyalurkan minat dan hobi.
“Di sekolah kami tidak ada alat musik, jadi ini kesempatan bagus buat kami,” kata Fany Maran.
SBN sendiri lahir sebagai inisiatif perempuan adat dari ORPA Suku Namblong untuk merawat bahasa dan budaya, yang makin terpinggirkan. Musik menjadi salah satu sarana penguatan identitas lokal yang kini mulai mereka bangun kembali.

Seorang Guru tengah mengajar Bahasa Namblong kepada siswa-siswi Sekolah Budaya Namblong (SBN), Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. (Foto: Istimewa)
Kisah Roki: Belajar Musik Otodidak
Roki Aloisius bukan sembarang pengajar. Ia adalah musisi serba bisa yang memulai segalanya secara otodidak sejak kecil. Pengalamannya belajar dari teman, meminjam ukulele, hingga ikut band gereja sejak SD di Nabire, membentuk kemampuannya kini.
Roki bisa memainkan hampir semua alat musik mulai dari ukulele, gitar, bas, orgen hingga perkusi. Semua dipelajari lewat buku dan video YouTube.
“Saya ingin berbagi. Musik itu untuk semua orang, bukan untuk mereka yang punya alat lengkap saja,” ujarnya.
Kini, Roki aktif mengiringi misa di Gereja Kristus Terang Dunia, Waena, dan pernah mendirikan Noken Band, yang tampil dalam berbagai kegiatan budaya.
“Kalau musik bisa memperkaya cinta, maka teruslah menoken,” ungkapnya.

Pendiri SBN Rosita Tecauri tengah mengajar siswa menghaluskan pucuk daun sagu untuk dijadikan rok tradisional di Kampung Benyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. (Foto: JUBI/Aida Ulim)
Filosofi Menoken: Merajut, Menyambung, Menghidupkan
Menoken dalam konteks Papua bukan sekadar membuat tas tradisional, melainkan gerakan kolektif yang mengandung nilai kasih, solidaritas, kelenturan, keterbukaan, dan kehidupan.
Di bawah payung program 3M (Menoken, Menanam, Mem-BUMMA) dari The Samdhana Institute, kegiatan seperti Menoken Ukulele menjadi alat membangun komunitas, merajut generasi muda, dan menyambungkan masa depan budaya Papua dengan dunia yang lebih luas.
Dengan ukulele di tangan dan semangat yang terus dipupuk, anak-anak di SBN kini tengah memainkan lebih dari sekadar musik. Mereka tengah memainkan harapan. **














