Mengangkat Potensi Pengolahan Kayu di Kampung Ampas Melalui Usaha Mebel “Kumea”

Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, didampingi dua orang tukang Philipus Mofus dan Ernap Nof, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, JAYAPURA—Kampung Ampas memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) salah-satunya adalah pengolahan kayu.

Kampung Ampas terletak di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua atau di Perbatasan wilayah RI-Papua New Guinea (PNG).

Kampung Ampas didiami Suku Fermangem, salah suku besar di Kabupaten Keerom, yang terdiri dari 11 marga atau keret, yakni Mangga, Tewi, Bonggoro, Yapok, Manafi, Hip, Nof, Steven, Joron, Ombusawut dan Mofus.

Selain kampung Ampas, warga suku Fermangem juga mendiami sejumlah kampung lainnya, yakni Banda, Kalifam, Kalimo, Pund dan Yuwainda.

Mata pencaharian suku Fermangem sebagian besar adalah bercocok tanam.   

Melalui pertemuan dan kesepakatan semua marga suku Fermangem, untuk mengelolah potensi SDA, mereka lantas menginisiasi pembukaan usaha mebel, yang diberi nama Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas.

Usaha mebel ini berdiri sejak 2018, dengan anggota pertama 13 orang.

Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, kemudian mendapat pendampingan dari Cabang Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (CDKLH) Kabupaten Keerom.

Dikatakan, CDKLH Kabupaten Keerom membantu kayu olahan, tapi juga peralatan pendukung mebel, yakni mesin diesel merk Yanmar untuk skap, mesin potong, bor tangan, bor duduk, skap kecil dan mesin semprot pernis.  

Sejak itu, usaha mebel ini mulai memproduksi aneka mebel, seperti kursi, meja, kusen pintu, jendela, bangku dan lain-lain.

Untuk membuat mebel, warga memanfaatkan pelbagai kayu yang ada disekitarnya, antara lain, kayu merbau (intsia bijuga), kayu lingua (pterocarpus indicus), kayu cempaka (michelia) dan kayu libani (cedrus libani) dan lain-lain.

Usaha mebel ini sempat berhenti produksi di tahun 2022 hingga 2023, lantaran pandemi Covid-19. Pemerintah mewajibkan Work from Home (WFH).

Namun berkat dorongan dari CDKLH Kabupaten Keerom, dan didukung The Samdhana Institute, usaha mebel ini kembali produksi di tahun 2025.

Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo dan istri, didampingi Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius dan dua orang tukang Philipus Mofus dan Ernap Nof, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Awalnya Menoken Mambesak

Keterlibatan The Samdhana Institute pada Usaha Mebel Koperasi Kumea Kampung Ampas berawal dari kegiatan Menoken Mambesak 6-7 Agustus 2024 lalu.

Turut hadir saat itu Komunitas Pemuda Yotoro (KPY), Komunitas Noken Mamta (KNM) dan Komunitas Tuli Jayapura (KTJ).

Nokeners di Kampung Ampas mengunjungi Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas.

Selain itu, Nokeners juga mengunjungi Workshop Laurensius Mofus, Sekretaris adat Suku Fermangem, salah satu tokoh yang melestarikan seni-budaya dengan ragam dan pola khas suku Fermangem.
Noken kulit kayu dari pohon ‘Swits’ (dalam bahasa daerah Fermangem) masih bisa dijumpai di Kampung ini.

Monica Mofus, salah satu perempuan adat berbagi proses produksi tas noken sejak dari kulit kayu, penjemuran, memilin menjadi benang hingga menganyam. Masyarakat kampung Ampas juga menggunakan ‘Bae’ sejenis tas, untuk membawa berbagai keperluan yang membutuhkan wadah yang lebih besar.


Nokeners dari luar kampung Ampas juga membagikan pengalaman menoken, disampaikan Merlin Marwery dari KPY, dan David Samuelinto Rumbewas dari KTJ.


Menoken di kampung Ampas juga mengenalkan kopi, kakao, vanili dan potensi komoditas lainnya. Juga menguatkan komunitas adat untuk mengupayakan potensi wilayah adatnya dengan BUMMA (Badan Usaha Milik Masyarakat Adat).

Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, didampingi dua orang tukang Philipus Mofus dan Ernap Nof, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

filosofi Menoken


Menoken adalah bagian dari program 3 M The Samdhana Institute. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Menoken diinisiasi The Samdhana Institute adalah suatu gerakan bersama, yang terinspirasi dari nilai-nilai atau filosofi tas noken di Tanah Papua, yakni merajut tindakan dan membangun wadah, untuk menyambungkan komunitas, produk, pengetahuan, dan solidaritas.

Dengan demikian, menoken terdapat nilai-nilai yaitu kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, kedayagunaan, keterbukaan, memelihara kehidupan.

The Samdhana Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait lingkungan hidup.    

The Samdhana Institute kembali menggelar kegiatan menoken bersama warga suku Fermangem di kampung Ampas, Sabtu (8/3/2025) lalu.

Turut hadir Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius dan dua orang tukang Philipus Mofus dan Ernap Nof serta warga setempat.

Urbanus mengatakan, pihaknya mendapat pesanan atau order dari Kepala Kampung Ampas, berupa 12 unit bangku panjang dan 1 unit meja. 10 unit bangku panjang sudah selesai, dan masih tersisa 2 unit bangku panjang dan meja.

Urbanus mengatakan, 1 unit bangku panjang dibanderol Rp 1 juta. Jadi 12 unit bangku panjang dan meja total Rp 12 juta.  

Menurutnya, pihaknya menghadapi hambatan dan tantangan, terutama di bidang pemasaran atau marketing. Tapi terus berupaya mencari konsumen, untuk memasarkan usaha mebel ini.

Urbanus sempat dikirim CDKLH Kabupaten Keerom, untuk belajar produksi dan pemasaran mebel di Jepara dan Bali.

Dikatakan, pihaknya masih membutuhkan peralatan pendukung lainnya, seperti gurinda duduk, agar pekerjaan cepat selesai.

Urbanus menuturkan, mesin semprot pernis mengalami kerusakan, sehingga pihak The Samdhana Institute membawa ke Jayapura, untuk diperbaiki.

Khusus untuk listrik, ucap Urbanus, pihaknya telah menyampaikan kepada PLN Unit Keerom, untuk menambah daya listrik.  

Koordinator The Samdhana Institute Piter Roki Aloisius, didampingi  Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, dan tukang Ernap Nof, tengah mengukur panjang meja makan, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Nilai Ekonomi Lebih Tinggi

Roki menegaskan, pihaknya ingin memberi pengetahuan dan pembelajaran pada masyarakat bahwa jika masyarakat mengolah kayu menjadi mebel nilai ekonomi lebih tinggi dibanding jika mereka menjual kayu olahan.

Roki mengatakan, usaha mebel masyarakat adat Koperasi Kumea Kampung Ampas telah menunjukkan bahwa masyarakat mampu membuat mebel yang selama ini dikuasai oleh pengusaha non Papua.

Roki mencontohkan, kayu lingua 1 kubik Rp 2 Juta. Tapi dibuat papan, maka menghasilkan 50 lembar papan. Untuk 1 set meja makan dan 4 kursi membutuhkan 6 atau 7 lembar papan, dengan harga Rp 2 juta. Tapi setelah diolah menjadi produk mebel, maka dapat menghasilkan Rp 10 juta.

“Jadi ada nilai tambah ekonomi, jika mereka membuat menjadi mebel dibanding menjual kayu olahan,” terang Roki.  

Roki menyampaikan, perlu ada keberpihakan pemerintah daerah dari tingkat kampung, kabupaten hingga provinsi, untuk membantu kemajuan usaha mebel Kumea, dengan mewajibkan menggunakan produk mebel Kumea, untuk fasilitas sekolah, puskesmas dan pemerintah lainnya.

Roki menuturkan, pihaknya memfasilitasi Pastor Paulus Willem, OSA, seorang Biarawan Katolik dari Paroki Santa Maria Bunda Allah Kampung Yuruf-Amgotro, Keerom, mendampingi usaha mebel Kumea, dibantu 2 orang tukang masing-masing Philipus Mofus dan Ernap Nof.

“Pater Paulus punya keahlian dan kemampuan di bidang pertukangan,” tandas Roki.

Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius, didampingi  Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, dan tukang Ernap Nof, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Hitung Ulang Harga

Roki menyarankan kepada usaha mebel masyarakat adat Koperasi Kumea Kampung Ampas, untuk menghitung ulang harga pokok penjualan keseluruhan, baik biaya produksi dan operasional.

“Jangan sampai kelompok ini mengalami kerugian,” tegas Roki.

Roki saat itu juga order 1 set meja makan dan 4 kursi, dengan harga Rp 2 juta.

“Saya mau promosikan ke pihak lain, agar mereka tak ragu order mebel, karena dong mampu menghasilkan produk mebel yang berkualitas dan dapat bersaing,” tukas Roki.

Koordinator Usaha Mebel Masyarakat Adat Koperasi “Kumea” Kampung Ampas, Urbanus Manggo, didampingi dua tukang Philipus Mofus dan Ernap Nof tengah menyiapkan papan mebel, Sabtu (8/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Pemberdayaan Masyarakat Adat

Terpisah, Staf CDKLH Kabupaten Keerom, Susilo Hadiprakoso mengatakan, pihaknya sejak tahun 2019 hingga 2021 memberikan pendampingan, untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat adat Kampung Ampas.

Dikatakan Susilo, pihaknya memberikan bantuan sejak tahun 2019, yang bersumber dari dana Otsus, berupa melakukan Bintek mebel, pembangunan bengkel kerja, bantuan peralatan kerja, yakni mesin skap, mesin potong, mesin sensor dan mesin listrik.

“Di 2024 kami memberikan bantuan lagi, berupa peralatan mebel dan bahan permebelan,” ungkap Susilo.

Sekedar diketahui, Bahasa Fermangem dituturkan oleh mayoritas penduduk Kampung Ampas.

Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur, barat, dan selatan kampung Ampas dituturkan bahasa Walsa, sedangkan di sebelah utara dituturkan bahasa Taikat.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, Isolek Fermangem merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sebesar 99,50%—100% jika dibandingkan dengan bahasa lain yang ada di sekitarnya, misalnya bahasa Senggi (Find), Jorop, dan Walsa. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *