Penyalahgunaan Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Remaja di Papua

Bernarda Monika Yovita, SKM, MKes. (Foto: Istimewa)

Oleh: Bernarda Monika Yovita, SKM, MKes (*)

PAPUAInside.id, JAYAPURA—Ada peristiwa yang sempat viral di media sosial, yaitu Tim Direktorat Cyber Polda Papua menangkap seorang pemuda berinisial MHS alias Anto (23), warga Perumnas III, Waena, Kota Jayapura, Provinsi Papua, karena diduga menyebarkan konten pornografi anak di media sosial. Penangkapan dilakukan di rumah pelaku pada 16 November 2024, setelah pihak Polri menerima laporan dari National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC), sebuah organisasi nirlaba asal Amerika Serikat, pada 13 November 2024.

Direktur Cyber Polda Papua, Kombes Pol Syamsul Rijal, mengatakan bahwa tersangka MHS melakukan tindakan tersebut karena pernah menjadi korban kekerasan seksual atau disodomi saat duduk di bangku SMP. Dari tangan tersangka, Polda Papua menyita sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit handphone (HP), SIM card Telkomsel, laptop, empat akun email, dua akun media sosial (Facebook dan Instagram), serta sejumlah pakaian dalam wanita dan anak-anak.

Peristiwa ini menunjukkan dampak buruk penyalahgunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja, khususnya di Papua.

Direktorat Cyber Polda Papua kini aktif menggelar sosialisasi tentang penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa-siswi di beberapa sekolah di Kota Jayapura. Tim Direktorat Cyber Polda Papua, AKP Arianti Hubi, mengatakan bahwa sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai bahaya yang dapat ditimbulkan, seperti kerugian finansial, gangguan psikologis, hingga permasalahan hukum yang bisa merugikan masa depan mereka.

Namun, hingga kini belum ada data pasti mengenai dampak penyalahgunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja di Papua.

Kesehatan Mental Remaja

Kesehatan mental adalah kondisi di mana seseorang dapat mengelola emosi, menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik, dan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitarnya. Kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial seseorang. Hal ini mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dalam menghadapi hidup. Kesehatan mental yang baik memungkinkan seseorang untuk beradaptasi dengan stres, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi positif kepada komunitasnya.

Meningkatkan Risiko Gangguan Mental pada Remaja

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yang dikutip oleh Halodoc, media sosial hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Di satu sisi, keberadaan media sosial dapat membantu remaja mengembangkan keterampilan komunikasi, berteman, mengejar bidang minat, serta berbagi pemikiran dan ide. Namun, di sisi lain, media sosial memiliki dampak negatif pada remaja, termasuk risiko gangguan mental.

National Institute of Mental Health melaporkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada remaja usia 18–25 tahun.

Durasi Penggunaan Media Sosial dan Risiko Kesehatan Mental

Tiga platform media sosial paling populer di kalangan remaja adalah YouTube (digunakan oleh 85 persen remaja, menurut survei 2018 Pew Research Center), Instagram (72 persen), dan Snapchat (69 persen). Menurut laporan 2018 yang dikeluarkan oleh GlobalWebIndex, orang berusia 16–24 tahun menghabiskan rata-rata tiga jam menggunakan media sosial setiap hari. Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental, terutama masalah internalisasi atau citra diri.

Meskipun media sosial memiliki efek positif, seperti mengajarkan keterampilan sosial, memperkuat hubungan, dan memberikan kesenangan, penggunaan yang berlebihan dapat berdampak negatif, terutama pada kesehatan mental dan kesejahteraan pengguna muda.

Bagaimana penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko kesehatan mental remaja? Faktanya, di media sosial, remaja juga mengalami perlakuan buruk.

Survei Pew Research Center tahun 2018 tentang remaja di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa satu dari enam remaja telah mengalami setidaknya satu dari enam bentuk perilaku penganiayaan online, antara lain:

  • Panggilan nama (42 persen)
  • Menyebarkan rumor palsu (32 persen)
  • Menerima gambar eksplisit yang tidak diminta (25 persen).
  • Mendapatkan ancaman fisik (16 persen)

Kondisi ini semakin buruk ketika remaja menganggap hal-hal negatif yang terjadi di media sosial sebagai hal yang lumrah dan “risiko” dari bermain di media sosial. Jika hal ini terus dibenarkan, maka dapat memicu masalah yang lebih serius lagi.

Bukan tidak mungkin, remaja yang menjadi korban penganiayaan online justru malah melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Oleh karena itu, menggunakan media sosial dengan bijak adalah salah satu cara untuk melindungi diri dari dampak negatif penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.

Menjaga Kesehatan Mental Sembari Bersosial Media

Upaya untuk mencegah dampak negatif penggunaan media sosial oleh remaja dimulai dengan mendidik mereka tentang bahaya yang bisa ditimbulkan. Salah satu cara yang paling efektif adalah memastikan bahwa penggunaan media sosial memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menemukan bahwa mahasiswa yang membatasi waktu mereka di Facebook, Instagram, dan Snapchat hingga 10 menit setiap hari atau total 30 menit penggunaan untuk semua media sosial umumnya memiliki citra diri yang lebih positif. Para siswa yang membatasi penggunaan media sosial mereka hingga 30 menit sehari melaporkan lebih sedikit depresi dan kesepian setelah tiga minggu. Selain itu, ada peningkatan mood yang mengurangi tingkat depresi.

Para remaja sering menjadikan media sosial sebagai pembanding diri dengan orang lain, yang dapat merusak citra diri yang sehat. Banyak perempuan merasa penampilannya buruk saat melihat penampilan orang-orang di media sosial.

Tantangan terbesar bagi orangtua zaman sekarang adalah memastikan anak-anak remaja mereka menggunakan media sosial secara positif. Seringkali, pola konsumsi media sosial pada remaja justru mencontoh orangtua mereka. Ketika orangtua lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan jarang mengajak anak-anak terlibat dalam aktivitas di dunia nyata, maka anak-anak pun akan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. **

(*) Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *