Komunitas Menoken Perkenalkan Bahasa Isyarat kepada Anak-anak Suku Kokoda

Tim Komunitas Menoken, Achmad Amir Tapilatu tengah memperkenalkan bahasa isyarat abjad kepada anak-anak, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, KOKODA—Komunitas Menoken dari beberapa wilayah adat di Tanah Papua ikut memperkenalkan bahasa isyarat, terutama abjad kepada anak-anak Suku Kokoda, ketika “Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024” di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024).

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 berlangsung 13-20 Desember 2024 di beberapa kampung, yang didiami suku Kokoda, antara lain, Migori, Kasuweri, Birawako, Arbasina, Nebes dan Tarof.

Pengenalan bahasa isyarat disampaikan Achmad Amir Tapilatu, Nokeners Domberai sekaligus Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Sorong, yang ikut Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024.  

Kehadiran Amir sapaan akrab Achmad Amir Tapilatu berhasil memukau dan mencuri hati warga suku Kokoda. Semua berebut berkenalan dan Amir pun menyambut hangat.  

Saat memperkenalkan bahasa isyarat, Amir dibantu Nokeners Jakarta Hendrich Alvin Leonard Puang, untuk menterjemahkan bahasa isyarat, dan diikuti Nokeners KOMPIPA Sorong.

Amir juga memperkenalkan bahasa isyarat abjad “Salam Menoken” kepada anak-anak. Salam Menoken adalah salam khas Komunitas Menoken.

Amir mengatakan, ia termotivasi memperkenalkan bahasa isyarat, lantaran anak-anak suku Kokoda juga menerimanya untuk memperkenalkan bahasa isyarat.

“Anak-anak juga senang belajar bahasa isyarat, sehingga saya lebih termotivasi lagi,” ujar Amir.

Sejumlah anak-anak menyampaikan Salam Menoken, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)  

Yuniken Mayangsari, Nokeners yang berdomisili di Bogor, menyampaikan terima kasih, khusus kepada Amir Tapilatu dan Hendrich Alvin Leonard Puang, yang telah memperkenalkan komunikasi bahasa isyarat milik teman tuli ini kepada anak-anak suku Kokoda dengan cara yang alami dan menyenangkan.

Alvin sapaan Hendrich Alvin Leonard Puang mengatakan ia berupaya untuk menterjemahkan bahasa isyarat, yang disampaikan Amir (teman tuli)

“Saya senang bisa langsung praktek melanjutkan pengetahuan bahasa isyarat saya, tapi Amir memainkan jari jemarinya sangat cepat, sehingga saya agak sulit terjemahkannya. Tapi saya terus mencoba dan Amir sabar membantu, dan semoga akan terjadi kesetaraan akses informasi,” tutur Alvin.

Alvin mengaku mulai belajar bahasa isyarat, ketika mengikuti kegiatan Komunitas Menoken Lembah Tatong di Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2023 lalu.

Sementara itu, Siswa Kelas VI SDN XVII Migori, Ahmad Biowa (14) dan Solder Simurat (14) menyampaikan rasa bahagia mendapat kesempatan mengenal bahasa isyarat.

“Saya baru pertama kali belajar isyarat, tapi saya senang,” ujar Ahmad.

“Saya ingin belajar bahasa isyarat, biar bisa komunikasi dengan kakak-kakak difabel,” tutur Solder. 

Selanjutnya, Amir juga memperkenalkan bahasa isyarat kepada warga suku Kokoda di Kampung Birowako pada Selasa (17/12/2024) dan di Kampung Nebes Rabu (18/12/2024).

Tim Komunitas Menoken, Achmad Amir Tapilatu tengah memperkenalkan bahasa isyarat abjad kepada warga, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di  Kampung Nebes, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Sebagaimana diketahui, Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 adalah bagian dari program 3 M Samdhana Institute yang berkolaborasi dengan Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA)

3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

The Samdhana Institute, merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait dengan lingkungan hidup.

Sementara itu, KOMPIPA sendiri adalah sebuah organisasi/komunitas yang  sejak lebih dari 5 tahun terakhir ini melakukan pendampingan berupa kegiatan sosial dan lingkungan hidup kepada warga asal suku Kokoda, yang berdomisili di sekitar Kabupaten Sorong, antara lain, di Kampung Kurwato, Maibo, Usili dan Warmon.

Alhasil, sebagai bentuk penghargaan dua pimpinan dan mantan pimpinan KOMPIPA, masing-masing Triantoro dan Ustad Agus Setiabudi resmi diangkat menjadi anak adat suku Kokoda pada saat peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato, melalui upacara adat sekaligus penyerahan piring gantung.

Bahkan Pendiri dan mantan Ketua KOMPIPA pertama adalah warga suku Kokoda, yakni Hamzah Edoba.

KOMPIPA sejak berdiri 18 Maret 2017 belum pernah menginjak kaki di Kokoda. Oleh karena itu, KOMPIPA menyambut baik gagasan Samdhana untuk melakukan kegiatan Menoken Domberai khususnya kegiatan Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024, untuk melihat dari dekat, silaturahmi dan berinteraksi dengan warga Suku Kokoda. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *