Suwandi Idris, Pemerhati sosial politik
Di atas tanah surga yang kaya akan emas, demokrasi di Papua sedang digadai. Pilkada yang harusnya menjadi panggung harapan, malah berubah menjadi arena pertarungan kepentingan. Seperti matahari yang tertutup kabut, proses ini kehilangan terang.
Kampanye terselubung mengintai di balik tirai, memainkan nada sumbang dalam simfoni demokrasi. Dugaan korupsi dana PON menyeruak seperti duri dalam daging, melukai kepercayaan rakyat. Di sudut lain, kotak kosong menjadi hasrat yang dipaksakan, melibatkan “partai cokelat” yang diduga memanipulasi arah politik. Tak heran jika rekomendasi yang sudah dikeluarkan Partai Golkar untuk PW-TW tiba-tiba saja berubah arah.
Ini bukan sekadar pilkada, ini adalah permainan di meja para penguasa. Administrasi pendaftaran dipertanyakan, ketidaknetralan ASN menjadi dosa yang terang-terangan. Seperti hutan yang dibakar tanpa ampun, integritas dibakar oleh nafsu kekuasaan.
Dan ketika kotak suara dibuka, kecurigaan tak mereda. Penggelembungan suara menjadi luka baru, seperti pasir yang bergeser dari tangan rakyat ke kantong para pencuri mandat.
Pilkada Papua tak lagi sekadar proses demokrasi, ia kini menjadi cermin retak. Setiap retakan memantulkan cerita pelanggaran, ambisi, dan pengkhianatan. Namun di antara bayang gelap ini, ada satu hal yang tak boleh kita lupakan: suara rakyat, sekecil apa pun, adalah cahaya.
Papua sedang menunggu keadilan. Demokrasi yang ternoda ini butuh dibersihkan, bukan untuk mereka yang berkuasa, tetapi untuk mereka yang percaya. Karena demokrasi adalah milik rakyat, bukan panggung sandiwara. **














