Menoken Mambesak Bersama Masyarakat Adat di Kampung Ampas, Keerom

Seorang perempuan Suku Fermanggen, memperagakan bai atau noken, ketika Manoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 6-7 Agustus 2024. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, JAYAPURA—Menoken Mambesak  adalah rangkaian kegiatan peringatan HUT Mambesak ke-46 Tahun 2024 di Pelataran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura 5 dan 9 Agustus 2024, sekaligus peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024.

Manoken Mambesak digelar di dua kampung, masing-masing di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 6-7 Agustus 2024.

Dilanjutkan di Kampung Pupehabu, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua 8-9 Agustus 2024.

Menoken Mambesak adalah kolaborasi Museum Loka Budaya Uncen dan The Samdhana Institute. 

Mambesak adalah salah-satu grup musik rakyat Papua didirikan Arnold Ap bersama kawan-kawan 5 Agustus 1978 silam.

Sedangkan The Samdhana Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergelar di bidang pengembangan masyarakat adat dan isu-isu lingkungan hidup.

Dengan demikian, seni dan budaya yang telah  diprakarsai Grup Musik Mambesak terus tumbuh dan berkembang di seluruh Tanah Papua.  

Menoken adalah kegiatan merajut tindakan dan membangun wadah untuk menyambungkan komunitas, produk, pengetahuan, dan solidaritas. Dengan demikian menoken ini ingin didasarkan sepenuhnya pada filosofi noken itu sendiri, yaitu kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, kedayagunaan, keterbukaan, memelihara kehidupan.

Kegiatan Manoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 6-7 Agustus 2024. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id) 

Koordinator Koperasi Komea Waris Keerom Papua sekaligus KAUR Umum Pemerintahan Kampung Ampas, Urbanus Mangga mengaku pihaknya baru mengetahui kegiatan Menoken Mambesak.

Walaupun demikian, masyarakat adat Kampung Ampas menyambut gembira, ternyata menoken mambesak memiliki manfaat positif, untuk berdikusi dan membahas tentang kebutuhan yang ada di masyarakat adat.      

Dikatakan Urbanus, pihaknya rencana untuk mempertemukan semua marga atau keret, untuk mengelolah kekayaan SDA milik Suku Fermanggem. Tapi rencana itu hingga kini belum terwujud.   

Adapun kendalanya, menurut Urbanus, pihaknya memiliki niat besar untuk bertemu, tapi masyarakat adat Kampung Ampas belum memiliki kompak, untuk mengelolah kekayaan SDA.

“Kalau kami sudah menjadi satu, maka kami pasti bisa,” ujar Urbanus.

Kegiatan Manoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 6-7 Agustus 2024. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id) 

Sementara itu, Nokeners Samdhana, Ambrosius Ruwindrijarto mengajak masyarakat adat Kampung Ampas, untuk terus menggelar kegiatan menoken mambesak, sehingga perlahan menjadi gerakan bersama masyarakat adat.

“Kalau masyarakat adat menyatukan langkah untuk bersatu dan kompak, maka apapun rencana bisa berjalan dan berhasil,” ungkap Ambrosius.  

Nokeners Samdhana, Abdon Nababan menuturkan, hari ini adalah hari kebangkitan masyarakat adat Suku Fermanggem.

“Kekuatan masyarakat adat hanya bersatu dan kompak, tak ada yang lain,” imbuh Abdon.

“jika semuanya sudah utuh, maka lanjutkan bahas peta wilayah adat dan lain-lain,” ucap mantan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ini.

Werga menujuk pohon swits bahan pembuat noken atau bai di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Diketahui masyarakat adat Kampung Ampas dihuni Suku Fermanggem, mereka memiliki 11 marga.

Kampung Ampas bertetangga dengan empat suku lain di Keerom di sekitar wilayah perbatasan RI-Papua Nugini (PNG)

Mata pencaharian masyarakat sebagian besar petani, yang lainnya memiliki usaha industri pengolahan kayu dan produksi meubeler.

Bahkan salah satu masyarakat adat Urbanus Mangga belajar produksi dan pemasaran produk mebel hingga ke Jepara dan Bali.

Sementara itu, kaum Perempuan merajut noken atau Suku Fermanggem menyebut bai, untuk mengisi hasil kebun.  

Saat menoken di Kampung Ampas, Nokeners  mengunjungi Art Shop atau tempat seni, budaya  dan kerajinan tangan, seperti noken, topi, tifa, jubi dan lain-lain. Art Shop ini dikelola Sekretaris Adat Suku Fermanggem, Laurensius Mofus.

Kampung Ampas memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, tapi sejauh ini belum dikelola secara maksimal, termasuk potensi komoditas vanili. 

Turut hadir dalam menoken mambesak, antara lain, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda Suku Fermanggem,  puluhan nokeners mewakili Komunitas Menoken Mamta, Komunitas Menoken Samdhana, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Pemuda Yotoro, Komunitas Menoken Bogor, Komunitas Menoken Yogyakarta, Komunitas EcoDefender Jayapura dan Komunitas Rumah Bakau Jayapura. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *