Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, JAYAPURA—Misa Akbar yang dipimpin langsung Pemimpin Tertinggi Agama Katolik Sedunia sekaligus Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus berlangsung di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Misa Akbar tersebut, dimana Pembacaan Doa Umat menggunakan ragam bahasa daerah di Indonesia, diantaranya, Bahasa Jawa, Bahasa Toraja, Bahasa Manggarai Flores, Bahasa Batak Toba, Bahasa Dayak Kanayatn, dan Bahasa Malind dari Merauke.
Doa umat tersebut dibacakan Liberata Ndikiwag Ndiken, seorang putri Malind sekaligus Siswa SMA Marsudirini Virgo Fidelis, Bawen, Semarang, Jawa Tengah.
Berikut ini Doa Umat dalam Bahasa Malind.
Nahan ke Nanggo, Bangsa Indonesia: Allawi, ahep ghr’aupakeh nok’ken bangsa kerukunan, pololi yah hyakod bekai hyakod rasa yah ehe bangsa a’ negara’ ohe otih anim mbya waninggap ti kanap kaghr’nahibe yum’lik anim membutuhkan sene, hayatia, a’kedamaian. Kami Mohon, Kabulkanlah Doa Kami, Ya Tuhan.
Doa Umat terjemahan dalam Bahasa Indonesia.
Bagi Bangsa kami, Indonesia: Tuhan anugerakanlah kepada bangsa kami kerukunan, gotong royong, serta sehati seperasaan, sehingga bangsa dan bangsa kami menjadi tempat yang banyak orang merasa direngkuh oleh keramahan dan kebaikan, mereka yang datang untuk berwisata, untuk bekerja atau untuk mendapatkan perlindungan sebagai pengungsi. Kami Mohon, Kabulkanlah Doa Kami, Ya Tuhan.
Bahasa Malind Tetap Hidup
Ketua Sekolah Alam Paradise (SAP) Merauke, Yune Angel Anggelia Rumateray menanggapi positif pembacaan doa umat pada misa akbar Paus Fransiskus, salah-satunya menggunakan Bahasa Malind.
Yune adalah anak Malind, yang tengah memperjuangkan, agar Bahasa Malind tetap hidup dan abadi.
Bersama Papua Paradise Center (PPC) menerbitkan Buku Saku Bahasa Malind, menggunakan Dialeg Onggari (Wanggali Milah) dan Dialeg Duh Milah.
Buku Saku Bahasa Malind telah diperkenalkan di sekolah-sekolah formal di wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Tujuan penerbitan Buku Saku Bahasa Malind, menurut Yune, untuk memperkenalkan Bahasa Malind kepada generasi muda, agar salah-satu bahasa ibu di Merauke ini tetap dijaga, dirawat dan dilestarikan, agar tak mengalami kepunahan.
Yune menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya, khususnya kepada Panitia Misa Akbar Paus Fransiskus di Stadion GBK, Jakarta.
“Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di Tanah Malind, saya merasa bangga setidaknya Suku Malind, yang selama ini dipandang sebelah mata bisa dikenal melalui pembacaan doa umat dalam misa akbar Paus Fransiskus,” ungkap Yune.

Penutur/Pengajar Bahasa Malind di Sekolah Alam Paradise (SAP) Merauke, Mujina Kaize. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Bahasa Itu Roh
Sementara itu, Mujina Kaize, Penutur/Pengajar Bahasa Malind di SAP Merauke mengungkapkan ia sebagai perempuan Malind menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah, bangsa ini atas keterwakilan suku Malind dalam doa umat yang dibacakan menggunakan Bahasa Malind.
Mujina mengatakan, PPC dan Balai Bahasa Provinsi Papua tengah memperjuangkan Bahasa Malind masuk dalam Muatan Lokal (Mulok), sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah formal di wilayah Kabupaten Merauke.
Mujina terharu dan meneteskan air mata, karena perjuangan bersama teman-teman tidak sia-sia, untuk melindungi bahasa Malind.
“Bahasa itu roh atau nafas, ketika tubuh kami hidup, tetapi bahasa itu hilang atau punah berarti ras orang Malind pun seakan telah ditelan bumi. Ini berarti Tuhan dan leluhur negeri ini sedang berpihak kepada suku Malind,” tandas Mujina.
Untuk itu, Mujina mengajak untuk semua orang tua, saudara-saudari, adik dan kaka, anak cucu kita bersama menggunakan bahasa Malind sebagai bahasa sehari-hari di rumah, agar jati diri atau simbol diri kita tetap terjaga sampai Tuhan datang kembali.

Fasilitator Sekolah Alam Paradise (SAP) Merauke Canisia Waliter. (Foto: Dok/Pribadi)
Doa Umat Dibacakan Langsung Putri Malind
Fasilitator SAP SAP Merauke Canisia Waliter menuturkan, bahasa ibu adalah harga diri dan warisan berharga yang diwariskan nenek moyang kepada anak cucu.
Canisia menerangkan, sebagai anak Malind yang sedang berjuang, untuk melestarikan Bahasa Malind dan juga seorang Pemuda Katolik.
Canisia mengikuti misa akbar Paus Fransiskus melalui online merasa bangga dan terharu, karena Malind Mayan (Bahasa Malind) diperkenalkan melalui doa umat kepada seluruh umat se nusantara dan dunia.
Namun lebih membanggakan lagi, doa umat tersebut dibacakan langsung oleh anak Malind, Liberata Ndikiwag Ndiken.
“Ini merupakan momentum langkah dan terkesan bagi kami,” ucapnya.
“Semoga moment ini juga dapat membangkitkan semangat dan kesadaran bagi setiap kami untuk tetap melestarikan bahasa Ibu mulai dari rumah kita masing- masing sampai dimanapun kami berada,” ucapnya lagi.
Diketahui, Paus Fransiskus melakukan perjalanan apostolik ke-45 dengan mengunjungi empat negara di Asia dan Oseania, yakni Indonesia, Papua New Guinea (PNG), Timor Leste dan Singapura 2-13 September 2024. Indonesia 3-6 September 2024, Papua Nugini 6-9 September 2024, Timor Leste 9-11 September 2024 dan Singapura 11-13 September 2024. **














