Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, MERAUKE—Kegiatan Menoken di wilayah adat Animha, ternyata membawa kenikmatan tersendiri. Pasalnya, kegiatan menoken petang hari itu dilaksanakan sambil menikmati kacang mete aneka rasa, seperti salted (asin) dan original olahan kaum wanita, dipimpin Staf Yayasan Dahetok Milah Lestari (YDML) Pdt. Osin Pakey.
Kegiatan Menoken berlangsung di Kampung Soa, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Rabu (14/8/2024).
Turut hadir puluhan petani, khususnya kaum wanita, YDML, Komunitas Menoken Animha, Komunitas Menoken Mamta dan The Samdhana Institute, Papua Paradise Center (PPC) dan Sekolah Alam Paradise (SAP).
Carolina Ketot, seorang petani mete menyampaikan ia menanam ribuan pohon mente sejak 1996 silam. Namun satu persatu mati. Kini tersisa 1.000-an pohon mete miliknya.
Carolina menyebutkan, beberapa faktor yang menyebabkan sejumlah petani merasa prihatin, antara lain, anjloknya harga mente, bunga mente gampang rontok, dahan patah sebelum berbuah dan buah busuk dimakan rayap.
Padahal, menurut Carolina, hasil mete selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Tapi lantaran terdesak pemenuhan kebutuhan keluarga dan biaya anak-anak sekolah.
Carolina terpaksa melepas mete gelondongan kepada tengkulak, yang saban hari menggunakan mobil blakos datang membeli mete milik petani.
“Kami lepas dengan harga murah Rp 8.000-9.000 perkilo,” ujar Carolina dengan wajah sedih.
Carolina menuturkan, para petani memanen mete pada September atau Oktober setiap tahun. Ia mengaku mendapat Rp 5-10 juta sekali panen.
Selain menanam mete, Carolina juga menanam ubi dan keladi untuk makan sehari-hari. “Kalau hasilnya banyak kami jual ke kota,” tandasnya.
Sementara itu, Yakoba Komenop mengaku menjual mente gelondongan, karena tak memiliki pisau kupas, yang harganya cukup mahal.
“Kalau ada pisau kupas, kami bisa jual biji kacang mate, yang harganya lebih baik,” pungkas Yakoba. **














