Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, MERAUKE—Sekolah Alam Paradise (SAP) hadir untuk memajukan, meningkatkan literasi dan fokus pada pendidikan karakteranak-anak asli Papua di Provinsi Papua Selatan.
SAP didirikan seorang enterpreneur muda Yune Angel Anggelia Rumateray pada 6 Pebruari 2023.
Bersama The Samdhana Institute, Komunitas Menoken Mamta dan Komunitas Menoken AnimHa, kami berkunjung ke Kantor SAP di Jalan Gudang Arang, RT 010/RW. 003, Kelurahan Kamahedoga, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Sabtu (17/8/2024).
Kami disambut Yune, didampingi Direktur Papua Paradise Center (PPC) Marthen Ayub Luturmasse, suami Yune.
Didominasi Kayu Lapis
Kompleks perkantoran SAP berdiri diatas lahan, terdiri dua bangunan permanen didominasi kayu lapis. Satu bangunan utama lantai dua pintu utama dan beberapa jendela.
Bangunan utama digunakan untuk kegiatan sehari-hari dan satu bangunan lagi untuk pertemuan dan ruang perpustakaan.
Dari atas bangunan nampak lahan luas dihiasi pepohonan rimbun dan rumput hijau di sekitarnya.
Kami menoken sembari menikmati makanan khas Papua keladi tumbuk.
“SAP memiliki 132 siswa tanpa bayar alias gratis dan terbuka untuk siapapun,” ujar Yune dengan senyum merekah.

Para siswa Sekolah Alam Paradise, ketika menyampaikan salam menoken. (Foto: Dok/SAP)
Yune bercerita, sebelum mendirikan SAP ia merintis UMKM Bevak Paradise, kemudian resmi memiliki Pusat Komunitas Belajar Masyarakat (PKBM) Paradise tahun 2024, agar dapat menjalin hubungan secara luas dengan stake holder, seperti pemerintah, swasta, BUMN, BUMD dan lain-lain untuk mensupport semua kegiatan SAP.
Yune menuturkan, dari 132 siswa SAP, diantaranya 64 siswa terdaftar di PKBM Paradise. Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke sementara mensinkronkan data siswa, untuk mendapat Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), hak belajar serta mendapat dana BOS.
Inspirasi dari Lamaholot
Berdirinya SAP, jelas Yune, berawal ketika ia ikut Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Sociopreneur Wira Bangsa di Subang Panaruban (Jawa Barat) tahun 2020.
Yune berjumpa dengan 75 anak muda penggerak wirausaha di daerahnya masing-masing.
Diantaranya, Magdalena Oa Eda Tukan dari SimpaSio Institute, Larantuka (Flores Timur) Nusa Tenggara Timur (NTT).
SimpaSio Institute adalah Komunitas Literasi atau Komunitas Belajar, yang mempelajari tentang budaya Lamaholot.
Di Subang Panaruban, Yune juga belajar dari teman-teman Sekolah Alam Professores Art Production (PAP) di Desa Barakkang, Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Provinsi Sulawesi Barat.

Yune Angel Anggelia Rumateray, ketika ikut Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Sociopreneur Wira Bangsa di Subang Panaruban (Jawa Barat) tahun 2020. (Foto: Dok/SAP)
Yune mengaku perjumpaan dengan Magdalena Oa Eda Tukan dan Sekolah Alam PAP memberinya inspirasi, untuk kemudian mendirikan SAP.
Akhirnya, Yune kembali ke Merauke dan mulai merintis dan mendirikan SAP persis di saat pandemi Covid- 19, sehingga anak-anak dirumahkan.
Tapi Yune tak hilang akal, ia kemudian menemui anak-anak di pinggiran Sungai Maro, Merauke, sambil membawa noken berisi buku-buku, untuk bahan ajar di saat anak-anak tengah membantu orang tuanya mencari ikan.
Solusi Tepat
Menurut Yune, SAP adalah solusi tepat, untuk anak-anak belajar pendidikan karakter, calistung, kearifan lokal, cinta lingkungan, bahasa Malind atau bahasa ibu, bahasa Inggris, keterampilan dasar, seperti merajut, seni, olahraga, life skill dan lain-lain.
Yune sesekali mengajak anak didiknya out door, antara lain, ke taman atau kebun untuk praktek langsung berkaitan dengan alam, seperti belajar tumbuh-tumbuhan dalam bahasa Malind dan bahasa Inggris.
“Saya terus mendorong operasional belajar mengajar anak-anak dan makanan sehat dari sekian persen yang saya punya,” tutur ibu dua anak ini.

Yune Angel Anggelia Rumateray, ketika ikut Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Sociopreneur Wira Bangsa di Subang Panaruban (Jawa Barat) tahun 2020. (Foto: Dok/SAP)
Mengembangkan UMKM
Sementara itu, Direktur Papua Paradise Center (PPC) Marthen Ayub Luturmasse mengatakan SAP dan PPC saling mengisi satu sama lain.
PPC awalnya fokus di bidang pendidikan. Namun lantaran permasalahan di Merauke sangat kompleks, iapun mendirikan perkumpulan PPC pada 2022, tapi sah secara hukum pada 6 Pebruari 2023, untuk menangani isu-isu lain.
Ayub menjelaskan, PPC kini bergerak empat 4 divisi, yakni pendidikan dan pelatihan, ekonomi kerakyatan, hutan dan lingkungan dan kebudayaan dan perempuan.
Alhasil, PPC dan Kementerian Agama RI telah menandatangani kesepakatan kerjasama atau MoU.
“Jadi selama lima tahun setiap Kamis mengajar anak-anak pendidikan karakter,” ucap Ayub.
Di divisi pendidikan dan pelatihan, terangnya, pihaknya ikut mengembangkan SAP.
Di divisi ekonomi kerakyatan, ungkap Ayub, pihaknya mengembangkan kuliner pangan lokal Papua, pelatihan manajemen keuangan, manajemen bisnis ke beberapa mitra, pendampingan melalui Bevak Paradise, Mama-mama perajut noken “Katin Sai” di Gudang Arang, Kelurahan Kamahedoga, dekat wilayah SAP.

Pendiri Sekolah Alam Paradide (SAP), Yune Angel Anggelia Rumateray bersama para siswa, ketika melakukan pembibitan mangrove. (Foto: Dok/SAP)
Kelompok YEKINTO, pemuda yang melestarikan budaya Kanum lewat pembuatan tifa/putkle, lagu berbahasa Kanum dan mengajarkan bahasa Kanum ke anak-anak usia dini di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke.
Yanggandur adalah salah-satu kampung di dekat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) perbatasan dengan negara tetangga Papua New Guinea (PNG).
Kelompok “Yu Mbu Tar Ta” adalah kelompok yang memproduksi cawat/parak, Virgin Coconut Oil (VCO), anyaman tikar, topi, tas dan lain-lain, serta terasi udang di Kampung Onggaya, Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke.
Hutan Lindung
Di divisi hutan dan lingkungan, kata Ayub, membersikan sampah, kemudian menanam mangrove, terutama di daerah-daerah kritis banjir di Merauke.
“Kami siapkan bibit mangrove kepada siapapun, yang ingin melakukan aksi tanam pohon mangrove dan membuat hutan produksi,” tandas Ayub.
Di divisi kebudayaan dan perempuan bersinergi dengan divisi pendidikan dan pelatihan menerbitkan buku saku bahasa Malind, atribut budaya dan melakukan advokasi kepada masyarakat bahwa perempuan memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. **














