Jokowi Kembali ke Keerom Tiga Bulan Lagi untuk Panen Jagung 45 Hektar

Presiden Jokowi, didampingi Bupati Keerom Piter Gusbager, ketika meninjau ladang jagung di kawasan food estate zona 9 di Kampung Wambes, Distrik Mannem, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Kamis (6/7/2023). (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside, ARSO—Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal kembali ke Keerom tiga bulan lagi, untuk panen jagung seluas 45 hektar.

Demikian  disampaikan Bupati Keerom Piter Gusbager, usai mendampingi  Jokowi meninjau ladang jagung di kawasan food estate zona 9 di Kampung Wambes, Distrik Mannem, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Kamis (6/7/2023).

Kehadiran Jokowi kali ini, ujar Gusbager, untuk meninjau ladang jagung yang ditanamnya bersama para petani seluas 10.000 hektar pada saat pencanangan kawasan food estate, Selasa (21/3/2023) atau 107 hari lalu.

“Bapak Presiden tidak memanen, tapi hanya singgah melihat dan memberi motivasi kepada masyarakat dan petani di Keerom, untuk meningkatkan produksi jagung,” tutur Gusbager.

Meski demikian, terangnya, Jokowi bakal datang tiga bulan lagi untuk panen, sekaligus memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti  traktor untuk pengolahan tanah.

Dikatakan, penyaluran alsintan ini untuk mendukung investasi jagung, yang akan terintegrasi secara tumpangan sari dengan jenis tanaman  lain, yang nanti disediakan Kementerian Pertanian.

“Ada pinang, kelapa jingga, mangga harum manis dan juga jenis-jenis tanaman lainnya yang nanti dikombinasikan didalam jalur dan pematang dari jagung ini,” katanya.

Dikatakan pihaknya juga akan integrasikan dengan  biofloc, untuk perikanan air tawar.

“Jadi ada integrasi antara tanaman jagung dengan tanaman lain serta perikanan dan lain lain, tapi dilakukan secara bertahap,” tuturnya.

Menurutnya, lahan jagung ini diolah pemilik lahan dan juga kelompok petani pekerja, yang terbagi dalam  tiga afdilling, yakni Wambes, Yamara dan PIR IV.

“Jadi kita lihat calon petani dan calon lokasi (CPCL)  di wilayah ini sekitar 1.000 petani, tapi saat ini baru 500 hektar yang kita buka dan kita akan tanam sampai selesai,” terangnya.

Tahun depan rencana dibuka 2500 hektar di dua distrik, yakni Mannem dan Arso Timur.

Menurutnya, pihaknya mengajak semua pihak untuk menyadari dan memahami situasi dan kondisi di Papua tentu berbeda dengan membangun pertanian, yang sudah lebih maju seperti di Pulau Jawa, Sumatera dan lain-lain, yang petaninya sudah betul-betul memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai.

“Ini kita alihkan dari sawit ke jagung dalam volume dan luasan yang besar bukan kita tanam di belakang rumah atau pekarangan, sehingga perlu intervensi mekanisasi, ilmu pengetahuan dan  teknologi pertanian, yang memadai. Jika kita ingin tingkatkan produksi,” ungkapnya.

Sebelumnya, Jokowi mengatakan petani di Keerom bisa produksi jagung 7 ton per hektarenya, karena standar nasionalnya 5,6 ton per hektare.

Presiden juga menyebut bahwa harga jual dari panen jagung di kawasan tersebut cukup tinggi, berkisar Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga pokok produksi (HPP). Menurut Presiden, harga tersebut dapat memberikan keuntungan besar bagi petani.

“Kalau 7 ton per hektare kali Rp 6 ribu berarti sudah Rp 42 juta per hektare. Kalau 1.000 hektare berarti Rp 42 miliar, hanya 3 bulan atau 100 hari,” jelas Jokowi. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *