Oleh : Faisal Narwawan|
PAPUAinside.com, JAYAPURA – Air laut sempat naik hingga ke parkiran di Pantai Hamadi, Jumat (29/11/2019).
Dari pantauan Papuainside.com di sekitaran Pantai Hamadi, air laut naik setinggi pinggang orang dewasa diduga akibat gelombang laut yang cukup tinggi.
Sempat beredar di media sosial dan group-group WA soal pasang air laut di Pantai Hamadi yang memasuki tempat parkir kendaraan dan area tempat pengunjung berekreasi yang berada di bagian belakang pondok-pondok di sepanjang bibir pantai.
Pada situasi normal, air laut tidak pernah naik sampai ke tempat parkir. Kenaikan air diperkirakan lebih dari satu meter.
Pantai Hamadi merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Jayapura yang setiap hari dikunjungi warga karena letaknya dekat dari pusat keramaian dan berada di pinggir jalan yang melintasi Jembatan Youtefa dan ring road.
Kepala BMKG Wilayah V Jayapura Petrus Demon Sili dalam pernyataan resminya mengatakan, berdasarkan hasil analisis peta angin lapisan atas dan informasi Siklon Tropis yang dirilis oleh Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) BMKG, terdapat Siklon Tropis Kammuri di Samudera Pasifik Utara Papua Barat.

Keberadaan siklon Tropis Kamumri ini dikatakan, mempengaruhi tinggi gelombang di wilayah perairan Utara Papua hingga Papua Barat.
“Berdasarkan hasil pantauan TCWC BMKG, siklon tropis Kammuri bergerak ke arah Barat Laut menjauhi wilayah Papua,” ungkap Petrus, Jumat.
Dalam rilisnya, prakiraan tinggi gelombang 28 November- 04 Desember 2019 cukup berbahaya khususnya wilayah perairan Jayapura – Sarmi. Dimana pada 28 – 30 November tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,50 meter. Sementara pada tanggal 1 hingga 4 Desember 2019 tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,00 hingga 2,00 meter.
“Kesimpulannya, prakiraan tinggi gelombang sepekan tanggal 28 November – 04 Desember 2019, tinggi gelombang di perairan utara Papua diperkirakan pada kategori moderate (1,25-2,50 meter) hingga signifikan (2,5-4,0 meter).
Hal ini dikarenakan adanya siklon tropis Kammuri di Samudera Pasifik bagian barat (Papua bagian utara), ” jelasnya.
Selain itu, diperkirakan sepekan ke depan bergerak menjauhi wilayah Papua bagian utara.
“Pada Jumat ini juga, informasi Pasang Surut air laut tanggal 29 November 2019 tercatat pada jam 19.00 WIT merupakan puncak pasang ke dua dengan ketinggian 1,3 meter. Gelombang dengan ketinggian maksimum 2,5 meter dan air pasang 1,3 meter, diduga merupakan penyebab kenaikan air laut yang cukup signifikan hingga bisa mencapai wilayah yang lebih tinggi,” tutupnya.
BMKG Wilayah V Jayapura juga mengimbau masyarakat/nelayan di pesisir dapat memperhatikan resiko tinggi gelombang terhadap keselamatan pelayaran.
Disebutkan, perahu nelayan diharapkan mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang diatas 1,25 meter.
Nahkoda kapal tongkang diharapkan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang diatas 1,5 meter. Kapal memperhatikan kecepatan angin 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter.
“Sedangkan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar diharapkan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 12 knot dan tinggi gelombang diatas 4,0 meter,” jelasnya lagi.
Pihaknya meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada. **














