Oleh: Faisal Narwawan I
PAPUAinside.com, JAYAPURA—Aparat Gabungan TNI-Polri mengambil langkah tegas terhadap sekelompok massa, yang berencana melakukan aksi demo di Jayapura, Selasa (10/5/2022).
Ya, massa tak diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasinya hampir di semua titik kumpul.
Tak main-main, Polresta Jayapura Kota menurunkan 1.185 personel gabungan.
Pantauan di lapangan, puluhan massa sempat berkumpul di beberapa titik, seperti di Kamkey Abepura, Lingkaran Abepura, Gapura Uncen Abe dan wilayah Expo Waena, termasuk depan Mega Waena.
Aparat sempat mengimbau massa, agar tak melanjutkan aksinya, yang akhirnya berujung pada pembubaran paksa massa aksi.
Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol. Gustav R. Urbinas saat ditemui wartawan di Expo Waena mengatakan, pembubaran massa dilakukan, karena tak ada jaminan keamanan dari koordinator massa aksi.
Ia menyebutkan, potensi gangguan keamanan bisa saja terjadi. Apalagi, surat pemberitahuan aksi disebutkannya tak bisa dipertanggungjawabkan.
“Untuk mengurangi resiko saya ambil langkah tegas bahwa tidak boleh ada mobilisasi massa dalam rangka penyampaian aspirasi di area public, yang justruk sangat mengganggu,” ujar Kapolresta Gustav Urbinas.
Ia mengatakan, seruan yang disebarkan sebelum aksi dilakukan terbukti menimbulkan ketakutan.
“Suasana yang diciptakan ini tak kondusif, sehingga kami bubarkan paksa. Tidak ada pertanggungjawaban sejak surat pemberitahuan dilayangkan ke kami, tak ada koordinasi teknis bahkan surat dititipkan pada orang yang tak dikenali dan lari saat dipanggil,” katanya lagi.
Ia juga berpendapat bahwa aksi yang dilakukan sama dengan aksi-aksi sebelumnya, sehingga harusnya tak dilakukan.
“Aspirasinya sama, bedanya apa, sudah dua kali dan sama saja bunyinya. Sekali lagi tak ada jaminan dan siapa yang bertanggungjawab? Metode mobilisasi massa itu sangat berisiko,” jelasnya lagi.
Sebelumnya, Jubir Petisi Rakyat Papua (PRP) Jefri Wenda melayangkan undangan dan seruan aksi 10 Mei 2022 di beberapa daerah, termasuk Kota Jayapura.
Seruan itu disampaikan melakui media sosial dan tersebar luas di grup-grup WhatsApp.
PRP yang mengatasnamakan 112 organisasi pemuda di Papua dalam seruannya menyatakan akan melakukan demo dengan tuntutan cabut Otsus, tolak DOB dan gelar referendum.
Hingga siang hari, massa yang dibubarkan tak ada tanda-tanda akan kembali berkumpul. **














