PAPUAInside.com, TIMIKA— Konferensi-XI Sinode KINGMI di Timika, selain sukses memilih Ketua Sinode dan Pengurus 2021 – 2026 juga berhasil mencetak rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) melalui acara bakar batu dengan jumlah memotong 2500 ekor babi selama sepekan.
“MURI sudah mencatat dalam buku rekor yaitu tradisi bakar batu, MURI berksempatan hadir hari ini dan telah menyaksikan sendiri, sehingga kami mengumumkan suatu pencapaian rekor, dimana panitia telah berhasil melakukan bakar batu dengan jumlah babi mencapai 2,500 babi, ”ungkap Senior Manager MURI Awan Rahargo.
Penghargaan yang diberikan ini, kata Awan setelah melalui proses seperti pemantauan langsung di lapangan, mewancarai potensi yang sesuai kriteria superlative sehingga ditemukan data bahwa kegiatan bakar batu ini mencatat rekor terbanyak mengorbankan babi.
Rekor ini mematahkan rekor sebelumnya yang dibuat oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng saat syukuran di tahun 2014 lalu yang mengorbankan 200 ekor babi.
“Selama enam hari pelaksanaan konferensi XI KINGMI, ternyata bakar batu melibatkan 2500 ekor babi, ini jumlah yang sangat fantastis, telah memecahkan rekor,” tambahnya.
Lanjutnya, dengan pemberian rekor MURI ini, dirinya berharap dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya, sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum, yang bisa dipertahankan turun temurun.
”Bakar batu adalah salah satu tradisi di Papua, bahkan sebuah ritual untuk kebersamaan, ritual kegembiraan, silaturahmi sesama masyarakat di Papua dan MURI telah mencatat dimana sebanyak 2500 ekor babi ini korbankan dalam acara bakar batu akan dicatat dalam buku rekor MURI,’’ ujarnya.
Sementara itu Ketua Panitia Konferesi -XI Sinode KINGMI Willem Wandik mengatakan kegiatan ini memiliki nilai tersendiri bagi warga KINGMI sehingga mereka datang membawa babi untuk dikorbankan, mulai dari awal sampai penutupan konferensi tercacat 2500 ekor babi yang dipersembahkan.
“Persembahan ini jangan dinilai dari sisi lain, sebab untuk kami di wilayah gunung itu merupakan budaya dan tradisi, bakar batu menandakan ada suka cita, kegembiraan, bersyukur atas berkat Tuhan dalam gereja maupun kehidupan mereka,” jelasnya.
Kata Willem, pihaknya bersyukur karena pelaksanaan konferensi berlangsung aman, damai dan sukses padahal sebelumnya banyak yang memprediksi bahwa kegiatan ini akan kacau apalagi dilaksanakan di daerah Km-32.
‘’Ternyata atas penyertaan Tuhan kegiatan berlangsung aman dan sukses bahkan sejumlah hasil telah dicapai dalam konferensi KINGMI guna pelaksanaan pelayanan ke depan. Terima kasih kepada warga KINGMI dan jemaat yang telah ikut menjaga keamanan selama pelaksanaan konferensi. Kegiatan sukses dan lancar. Ini menandakan bahwa ada kebangkitan gereja KINGMI ke depan,” ungkapnya. ** (Diskominfo Puncak)














