Pemprov Papua Diminta Bentuk Tim Investigasi Tertembaknya Dua Guru di Puncak

Theo Hesegem. (Foto: dok pribadi)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua diminta segera membentuk tim investigasi tertembaknya dua orang guru di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua. Masing-masing bernama Oktovianus Rayo (43) dan Yonatan Raden (28).

Penembakan dua orang guru terjadi dalam dua hari dan lokasi yang berbeda. Di hari pertama Kamis (8/4/2021), Oktovianus Rayo. Hari kedua Jumat (9/4/2021), Yonatan Raden di Kampung Ongolan, Distrik Beoga.

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hesegem, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (13/4/2021) mengatakan terkait penembakan terhadap dua guru itu, dibutuhkan langka-langka konkrit dari pemerintah pusat dan pemerintah Daerah.

Dikatakan kekerasan tidak pernah akan berakhir, kalau tidak ada langkah-langkah kongrit yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pemilik rayat atau sebagai pemimpin bangsa ini.

“Setiap masalah akan berakhir, kalau ada kebijakan dari seorang pemimpin apalagi rakyat Papua menghadapi krisis kemanusiaan yang luar biasa, masyarakat yang merupakan sebagai WNI, tapi pemerintah tidak punya hati dan kepedulian terhadap penyelesaian persoalan di Papua. Ini kan sangat aneh,” ujarnya.

Ia menuturkan, rakyat Papua hingga kini terus mengalami korban entah Orang Asli Papua dan Non Papua mengalami korban dampak  dari siklus kekerasan yang terjadi selama ini. Rakyat Papua adalah bagian dari WNI, namun sepertinya tidak mempunyai pemimpin dan merasa seperti kehilangan pemimpinnya.

Menurutnya Presiden RI Ir Joko Widodo (Jokowi) tidak punya niat yang baik untuk menyelesaikan persoalan di Papua melalui dialog yang bermartabat dan berwibawah, tetap sebaliknya, justru meminta aparat melakukan operasi penegakan hukum, tapi Presiden tidak belajari operasi penegakan hukum yang dilakukan sejak dari tahun 2018.

“Operasi penegakan hukum selama ini gagal. Artinya kalau kita bicara dari sisi penegakan hukum, pelaku-pelaku yang melanggar hukum ditangkap,  tapi sejak operasi berlangsung  aparat tidak berhasil menangkap Egianus Kogoya dan kawan-kawannya hingga kini mereka masih eksis melakukan perlawanan di hutan,” pungkasnya. **