Oleh: Ignas Doy I
PAPUAInside.com, JAYAPURA—Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Papua, menggelar uji coba reagen, setelah alat ini tiba di Jayapura, Senin (27/07/2020).
Dengan demikian, direncanakan Jumat (31/07/2020) pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) normal kembali.
Sebelumnya, Balitbangkes Papua terpaksa mengantri pemeriksaan sebanyak 1100 PCR, karena sejumlah bahan habis pakai, termasuk reagen mulai menipis.
Kepala Balitbangkes Papua dr. Antonius Oktavian, ketika dikonfirmasi di Jayapura, Selasa (28/07/2020) membenarkan ada beberapa bahan habis pakai, termasuk reagen mulai menipis. “Reagen sebetulnya tak habis. Tapi jumlahnya terbatas,” katanya.
Oleh karena itu, jelasnya, pihaknya sementara tak menerima sampel, terutama surveillance, yang bahkan mencapa 600-700 sampel per hari.
“Jadi sayang kalau menumpuk. Ini saja sudah 900 sampel. Kalau makin menumpuk kwatir tak dikerjakan,” tuturnya.
Namun demikian, untuk sampel-sampel yang emergency kemudian follow-up dari rumah sakit dan karantina terpusat di Hotel Sahid tetap diterima.
Menurutnya, pihaknya berupaya mencari reagen kemana-mana, tapi alat ini langka. “Kami sudah menanyakan ke distributor, tapi barangnya lagi kosong. Mereka pun tak menjanjikan kapan akan datang,” terangnya.
Oleh karena itu, ujarnya, pihaknya menyurati Kementerian Kesehatan RI, untuk mendukung pengadaan bahan habis pakai reagen.
Alhasil, Balitbangkes Papua telah menerima reagen yang dikirim dari Balitbangkes. Hanya saja, reagen yang tiba di Jayapura agak berbeda merk dan tipenya.
“Sehingga kami sedang uji coba performanya selama dua hari ini sama nggak hasilnya. Kalau sama ya sudah kita launching,” terangnya.
Dijelaskan, sampel yang masih antri hingga Senin (27/07/2020) sebanyak 17 sampel yang masuk dari rumah sakit di Jayapura. Kemudian PCR 282 sampel dan sisa 968 sampel.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat, supaya lebih patuh dengan protokol kesehatan Covid-19, seperti jaga jarang, mencuci tangan, pakai masker dan lain-lain, sehingga kasusnya tak bertambah.
“Artinya kita dengan kondisi seperti ini jadi belajar bahwa tak selalu tersedia alat-alat juga bahan reagen seperti ini. Jadi andaikata jumlah kasusnya menurun juga tak akan banyak membutuhkan biaya. Kemudian alat-alat yang dicari juga semuanya masih dari luar negeri dan langka,” imbuhnya.
Sebelumnya, Jubir Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG (K) mengatakan, Balitbangkes Papua terkendala bahan habis pakai, yakni Microplate PCR Biorat dan Microseal Biofilm Optically Clear.
Sumule mengatakan, ada 12 item bahan habis pakai. Namun 10 item sudah dipastikan akan tiba di Jayapura.
“Hal ini memberikan konsekuensi kita belum tahu untuk minggu depan apakah pemeriksaan PCR itu bisa terlaksana atau tidak,” katanya.
Oleh karena itu, terangnya, Balitbangkes Papua mengambil kebijakan sementara waktu kabupaten dan kota dan layanan kesehatan, untuk tak mengirim sampel sampai ada kepastian 12 item bahan habis pakai sudah siap di Jayapura.
“Kalau mereka sudah mengirim sampel kepada kita dan tak bisa dilakukan pemeriksaan kita kwatir sampel tersebut rusak. Kalau sampel itu rusak dan akan memberikan hasil yang tak valid pada saat pemeriksaan, maka harus dilakukan pemeriksaa atau pengambilan sampel ulang lagi,” imbuhnya.
Ia menuturkan pihaknya terus membangun komunikasi dan minta agar teman -teman kabupaten dan kota memahami kondisi riil yang dihadapi Pemerintah Provinsi Papua saat ini.
Menurutnya, jika hingga pekan depan pemeriksaan PCR tak jalan, maka ia mengharapkan kabupaten dan kota bisa mendorong untuk dilakukan pemeriksaan di Labolatorium PCR milik PT. Freeport Indonesia di kabupaten Mimika. **














