PAPUAInside.id, JAYAPURA— Masa kepemimpinan Bupati Wandik selama dua periode di Kabupaten Puncak, Papua Tengah terus berusaha merepresentasikan kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat.
Selama kepemimpinannya Wandik terus melakukan pembangunan di berbagai sektor baik infrastruktur, SDM dan lainnya.
Bupati Wandik terus membangun meskipun dibawah bayang-bayang konflik yang sering terjadi.
Dengan terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati Puncak pada periode 2013-2018 dan 2018-2023 telah membawa perubahan besar dalam membangun daerah kabupaten Puncak dan masyarakat demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan terjawab melalui program prioritas yang dituangkan dana visi dan misi.

Adapun visi dan misi bupati dan wakil bupati Puncak yang menjadi gebrakan dalam menekan ketertinggalan kabupaten Puncak dapat adalah, di periode pertama 2013-2018 adalah ‘’Terwujudnya Kabupaten Puncak yang Damai, terdidik, Sehat dan Sejahtera.’’ Dan di periode kedua 2018-2023 “Terwujudnya Kabupaten Puncak yang Semakin Sehat, Cerdas dan Maju”
Selama Kepemimpinan Bupati Willem Wandik, ada beberapa point penting yang dinilai dari segi perencanaan dan berhasil dalam memajukan pembangunan di Kabupaten Puncak sehingga memberi dampak dan manfaat bagi masyarakat asli Papua dan pegawai negeri.
Di Bidang pendidikan Bupati Wandik membangun SDM anak asli Papua melalui bantuan beasiswa melalui kerjasama UGM dan pemerintah Kabupaten Puncak.
Untuk bidang kesehatan membangunan Rumah Sakit dan Puskesmas di beberapa distrik serta pembiayaan pengobatan gratis bagi orang asli Papua dan Kesehatan anak-anak, balita Puncak dari dana Otsus dan fasilitas kesehatan lainnya.

Di bidang keagamaan, melalui dana Otsus membiayai hamba-hamba Tuhan dan Haji melalui pemberian honor serta bantuan keagamaan kepada Gereja Sinode, Pembangunan Gedung Kingmi Ilaga Puncak.
Keberhasilan di bidang Infrastruktur dasar yakni pemasangan jaringan Internet dan jaringan Telkomsel bagi masyarakat Puncak, pemasangan jaringan Listrik dan PLTMH di Ilaga, Sinak dan Beoga. Pemasangan jaringan air bersih dan pembangunan bak penampung air bersih. Pembangunan dan peningkatan jalan dalam kota Ilaga dan pengadaan alat transportasi dan 2 Pesawat caravan.
Di usia 15 tahun yang masih terbilang usia remaja menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat membangun daerah dengan segala keterbatasannya.
Bupati Puncak, Willem Wandik, SE, M.Si menjelaskan infrastruktur menjadi kunci, membuka keterisolasian kabupaten tertinggi di Indonesia ini.
“Infrastruktur membuka peradaban masyakarat di Kabupaten Puncak, membuka tabir kehidupan untuk pembangunan berkelanjutan di Puncak,” jelasnya.

Usia 15 tahun menjadikan Kabupaten Puncak membuat sesuatu yang tak ada menjadi ada. Misalnya saja, sebelum dimekarkan menjadi kabupaten pada 2008, Puncak merupakan salah satu distrik di Kabupaten Puncak Jaya.
Kala itu, pembangunan masih sulit, tak ada jalan penghubung antara satu distrik ke distrik lainnya, ataupun dari satu kampung ke kampung lainnya.
Namun kini, tak hanya jalan penghubung antar distrik atau kabupaten yang terhubung, namun jalan antar kabupaten di sekitar Kabupaten Puncak sudah terhubung. Sebut saja jalan penghubung Jayapura-Wamena-Puncak, tersisa 200 kilometer. Belum lagi jalan penghubung Nabire-Ilaga ataupun Timika-Ilaga yang akan segera terhubung.
Tak hanya infrastruktur, masyarakat setempat sudah merasakan adanya penerangan, telekomunikasi, dan bisa bersekolah hingga tingkat SMA. Pemerintah juga menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang melanjutkan kuliah pada perguruan tinggi di Papua ataupun di luar Papua.

“Saya bahagia mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dengan keterbatasan, kekurangan yang ada. Kami berterima kasih, masyarakat memberikan dukungan dalam pemerintahan untuk membangun daerah ini,” lanjutnya.
Dengan daerah geografis yang sulit serta konflik yang terus terjadi di daerah ini, tak menyurutkan Bupati Puncak, Willem Wandik dan Wakilnya, Pelinus Balinal, S.Sos, Ag terus membangun daerahnya.
Kebhinekaan di Puncak
Willem Wandik menyebutkan Kabupaten Puncak juga menjadi rumah bagi semua suku di Indonesia. Sebab di kabupaten ini, masyarakat asli sudah berbaur dengan suku lainnya di Indonesia.
“Puncak adalah rumah kita bersama. Jika ingin belajar Kebhinekaan, belajarlah dari Papua, termasuk dari Kabupaten Puncak,” ujarnya.

Willem mengakui saat kepemimpinannya pada periode pertama mengusung Puncak yang damai sehat dan sejahtera. Pada era pertama, Willem Wandik mengejar ketertinggalan Kabupaten Puncak dengan sejumlah pembangunan yang ada.
Lalu, pada periode ke-2, Pemkab Puncak dihadapi dengan pandemi Covid yang menyebabkan 3 tahun berturut-turut tak adanya pembangunan. Lalu, masuk tahun ke-4 dan 5, dihadapkan pada keamanan.
“Namun, kami menikmati dengan apa adanya. Terima kasih atas semua pihak yang telah mendukung pembangunan di daerah ini,” ujarnya.
Sejarah Kabupaten Puncak
Kabupaten Puncak merupakan daerah otonom hasil pemekaran dari Kabupaten Puncak Jaya yang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Puncak di Provinsi Papua yang beribukota di Ilaga.

Menurut pelaku sejarah, terbentuknya kabupaten Puncak merupakan aspirasi dari masyarakat di beberapa distrik, yaitu distrik Sinak, Beoga, Ilaga dan Wangbe serta mahasiswa yang berkeinginan agar pelayanan pemerintah dapat terfokus pada pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat bisa lebih terarah.
Perjalanan panjang menuju terbentuknya kabupaten Puncak telah banyak pengorbanan yang dikeluarkan baik, tenaga, biaya dan bahkan tetes air mata dari para pejuang, semuanya terjawab dan menjadi saksi sejarah pada tanggal 21 juni 2008 di Wamena Kabupaten Jayawijaya untuk di resmikannya Kabupaten Puncak Papua.
Sejak awal diresmikan tahun 2008 Kbupaten Puncak dipimpin oleh pejabat definitive selama 4 tahun 9 bulan, pada tanggal 14 Februari 2013 mulai dilaksanakan Pemilukada. Pasangan Willem Wandik, SE, M.Si dan Repinus Telenggen, S.Pd sebagai pemenang menjadi Bupati dan Wakil Bupati Puncak yang pertama berdasarkan sidang pleno KPUD Kabupaten Puncak pada 23 Februari 2013. **














